Tampilkan postingan dengan label - MATEMATIKA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label - MATEMATIKA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2016

PENGANTAR KOMPUTER Panduan Penulisan Tugas Pembuatan Buku

Panduan Penulisan Tugas Pembuatan Buku
1.      Kertas
Kertas yang digunakan baik pada saat menyusun dilayar adalah ukuran A4 sedangkan untuk buku cetak adalah jenis HVS putih, minimal 80 gram dengan ukuran A4. Cover (halaman sampul) mengunakan kertas HVS putih, minimal 80 gram dengan ukuran A4 yang dicetak dengan full warna.
2.      Pengetikan
a)      Bidang pengetikan (margin) :
a.      Margin kiri (left)                     : 3 cm
b.      Margin kanan (right)              : 2,5 cm
c.       Margin atas (top)                    : 2,5 cm
d.      Margin bawah            (Bottom)         : 2,5 cm
b)      Diketik dengan penyuting kata MS Word atau sejenisnya dengan menggunakan jenis huruf TimesNewRoman berukuran 14pt untuk judul, sedangkan isi  menggunakan jenis huruf Times New Roman berukuran 12pt.
c)      Semua bagian pengetikan buku, menggunakan spasi 1,5
d)      Pengetikan dilakukan rata kanan dan kiri (justify) kecuali halaman-halaman tertentu, dengan tetap memenuhi kaidah penulisan sesuai Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, dan hanya ada satu sisi halaman, tanpa bolak balik.
e)      Judul bab diketik pada batas atas bidang pengetikan, disusun simetris menggunakan huruf besar semua, tanpa penggarisbawahan atau pembubuhan titik di akhir judul. Nomor bab menggunakan lambing angka Romawi.
f)       Judul sub-bab dan anak sub-bab diketik dari batas kiri bidang pengetikan dengan menggunakan huruf kecil kecuali awal kata yang diketik dengan huruf besar. Penomeran dilakukan dengan memberi nomor bab dengan angka arab dan nomor sub-bab/ anak sub-bab bersangkutan dipisah dengan tanda titik dan tanpa diakhiri titik.
g)      Paragraf awal pada setiap sub bab diketik mulai dari batas kiri bidang pengetikan sedangkan paragraph berikutnya diberi indentasi 4 karakter ke kanan (left indent).
h)      Dalam teks, sesudah tanda baca titik (.), titik dua (:), koma (,) dan titik koma (;) hendaknya diberi spasi.
i)        Semua kata asing dan unsur kata yang belum diserap dan belum baku dalam bahasa Indonesia diketik miring (italic) kecuali bila berada dalam kurung.
j)        Istilah yang belum diserap dan belum baku dalam Bahasa Indonesia perlu diapit dengan tanda petik tunggal, misalnya: ‘gaptek’.
3.      Susunan Penulisan Buku
a.      Bagian kepala, yang meliputi:
1.      Halaman sampul
2.      Halaman judul
3.      Pengesahan status buku
4.      Pernyataan penulis
5.      Persetujuan buku
6.      Abstrak
7.      Daftar isi
8.      Daftar gambar
9.      Daftar tabel
b.      Bagian tubuh, yang meliputi:
1.      Bab Pendahuluan
2.      Bab-bab isi
c.       Bagian ekor, yang meliputi:
1.      Daftar pustakan/ daftar pustaka
2.      Daftar biografi penulis


4.      Penulisan Acuan
a.      Cara penulisan kutipan diletakan di dalam tanda kutip. Bila sebelum kutipan digunakan kata “menulis” atau “mengatakan” maka biasanya diikuti dengan tanda koma, sedangkan kata lainya biasanya diikuti dengan tanda titik dua.
1.      Contoh:
a.      Datzig dan Ramser memberikan pendapatnya mengenai masalah optimalisasi jaringan:”Vehicle Routing Problem(VRP) selalu menjadi masalah mendasar dalam penulisan optimalisasi jaringan sejak pertama kali diperkenalkan [1]”.
b.      Datzig dan Ramser menulis, “Vehicle Routing Problem (VRP) selalu menjadi masalah mendasar dalam optimalisasi jaringan sejak pertama kali diperkenalkan [1]”.

5.      Daftar Pustaka/ Acuan
Sumber informasi yang dimasukkan dalam Daftar Pustaka dapat berupa:
a.      Buku seluruhnya
b.      Bab atau bagian suatu buku
c.       Monografi
d.      Makalah dalam majalah ataupun yang berasal dari suatu symposium atau pertemuan ilmiah lainnya
e.      Laporan ataupun naskah penerbitan suatu badan atau lembaga resmi
f.        Jurnal internasional yang berindex
Unsur-unsur yang harus ada dalam penulisan daftar pustaka/ acuan:
[#] Penulis, Judul Buku, Edisi, Tempat Terbit: Penerbit, Tahun Terbit, Halaman.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan pustaka atau acuan pada daftar pustaka/acuan:
a.      Jarak antar unsur satu spasi
b.      Nama penulis ditulis terbalik atau berdasarkan nama keluarganya. Bila terdapat beberapa nama penulis, maka nama penulis kedua dan selanjutnya tidak perlu dituliskan terbalik melainkan berdasarkan nama yang tertulis di buku yang dijadikan acuan.
c.       Tahun penerbitan yang dipakai adalah tahun terakhir saat buku itu diterbitkan.
Contoh:
[1] D. E. Knuth, Fundamental Algorithms, 2nd ed. Reading, MA: Addison-Wesley, 1999.

Contoh Daftar isi buku
Halaman Sampul                                                                                                  i
Halaman Judul                                                                                                     ii
Pengesahan Status Buku                                                                                      iii
Pernyataan Penulis                                                                                               iv
Persetujuan Buku                                                                                                 v
Abstrak                                                                                                                 vi        
Daftar Isi                                                                                                              vii
Daftar Gambar                                                                                                     viii
Daftar Tabel                                                                                                         ix
BAB I                                                                                                                  1
BAB II                                                                                                                 2
BAB III                                                                                                               3
BAB III                                                                                                               4
Daftar Pustaka                                                                                                     5
Daftar Biografi Penulis                                                                                        6






Contoh lembar Pengesahan Buku
l
Oval: LOGO STIEM Pekalongan
 






PENGESAHAN BUKU
JUDUL                   : “ Ekonomi Syariah Terapan”
NAMA                   : Ferry Haryono Setiawan
NIM                      : P31.2008.00568

Buku ini telah diperiksa dihadapan Pembimbing pada tanggal 24 Maret 2016. Menurut pandangan kami, Buku ini memadai dari segi kualitas untuk tujuan pemenuhan tugas matakuliah Pengenalan Komputer, semester 1, program studi Syariah Islam.

Pekalongan,   November 2016
Dewan Penguji



Alfa Yuliana Dewi, M.Kom                                                   Murtini, SE, M.Si, Ak, CA
           Pembimbing                                                                             Progdi



Contoh lembar Pengesahan Buku
l
Oval: LOGO STIEM Pekalongan
 






PERSETUJUAN BUKU
JUDUL                   : “ Ekonomi Syariah Terapan”
NAMA                   : Ferry Haryono Setiawan
NIM                      : P31.2008.00568

Judul buku ini telah disetujui.                                                     

Pekalongan,   November 2016
Dosen Pembimbing



Alfa Yuliana Dewi, M.Kom




Contoh lembar Pengesahan Buku
l
Oval: LOGO STIEM Pekalongan
 






PERNYATAAN PENULIS
JUDUL                   : “ Ekonomi Syariah Terapan”
NAMA                   : Ferry Haryono Setiawan
NIM                      : P31.2008.00568

Saya menyatakan dan bertanggung jawab dengan sebenarnya bahwa buku ini adalah hasil karya saya sendiri/kelompok kecuali cuplikan dan ringkasan yang masing-masing telah saua jelaskan sumbernya. Jika pada waktu selanjutnya ada pihak lain yang mengklaim bahwa buku ini sebagai karyanya, yang disertai dengan bukti-bukti cukup, maka saya bersedia dibatalkan nilai tugas Pengantar Komputer dan saya bersedia menerima nilai E atas kejadian tersebut.

Pekalongan,   November 2016
Dewan Penguji



Ferry Haryono Setiawan
Penulis

Kamis, 20 Oktober 2016

BAHASA INDONESIA DENGAN BERBAGAI RAGAMNYA

BAHASA INDONESIA
DENGAN BERBAGAI RAGAMNYA


A.    PENTING ATAU TIDAKNYA BAHASA INDONESIA
Sebuah bahasa penting atau tidak penting dapat dilihat dari tiga kriteria, yaitu jumlah penutur, luas daerah penyebarannya, dan terpakainya bahasa itu dalam sarana ilmu, budaya, dan susastra.
1.      Dipandang dari Jumlah Penutur
Ada dua bahasa di Indonesia, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Bahasa Indonesia lahir sebagai bahasa kedua bagi sebagian besar warga Indonesia. Bahasa pertama yang dikuasai seseorang adalah bahasa daerah. Bahasa Indonesia baru dikenal anak-anak setelah mereka sampai pada usia sekolah.
Berdasarkan keterangan di atas, penutur bahasa Indonesia yang mempergunakan bahasa Indonesia sebagai “bahasa ibu” tidak besar jumlahnya. Apabila kita memandang bahasa Indonesia sebagai “bahasa ibu”, bahasa Indonesia itu tidak penting. Akan tetapi, pandangan kita tidak tertuju pada masalah “bahasa ibu”. Jumlah penutur yang dimaksud adalah jumlah penutur yang memberlakukan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Penutur bahasa Indonesia lebih dari 240 juta orang ditambah dengan penutur-penutur yang berbeda di luar Indonesia. Hal ini menunjukkan bahsa bahasa Indonesia sangat penting kedudukannya di kalangan masyarakat.
2.      Dipandang dari Luas Penyebarannya
Penyebaran suatu bahasa tentu ada hubungannya dengan penutur bahasa itu. Oleh sebab itu, tersebarnya suatu bahasa tidak dapat dilepaskan dari segi penutur. Penutur bahasa Indonesia telah tersebar dari Sabang sampai Merauke. Daerah ini masih harus ditambah dengan daerah-daerah lain, sperti Australia, Belanda, Rusia, dan Jepang. Luas penyebaran ini dapat dilihat pula pada beberapa universitas di luar negeri yang membuka jurusan Bahasa Indonesia. Keadaan daerah penyebaran ini akan membuktikan bahwa bahasa Indonesia amat penting kedudukannya di antara bahasa-bahasa dunia.
3.      Dipandang dari Dipakainya sebagai Sarana Ilmu, Budaya, dan Susastra
Sejalan dengan jumlah penutur dan luas penyebarannya, pemakaian suatu bahasa sebagai sarana ilmu, budaya, dan susastra dapat dijadikan pula ukuran penting atau tidaknya bahasa tersebut. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai sarana ilmu dipakai pada saat menulis surat, membuat artikel ilmiah, karya ilmiah, tugas akhir, skripsi dan lain sebagainya. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai sarana budaya dipakai dalam berkomunikasi, bertutur sosial, bernyanyi, dan sebagainya. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai sarana susastra dipakai pada saat membuat karya sastra berupa puisi, prosa dan drama.
Ketiga hal di atas menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Indonesia sebagai sarana ilmu pengetahuan, budaya, dan susastra telah berjalan dengan baik. Hal ini membuktikan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang penting.

B.     RAGAM LISAN DAN RAGAM TULIS
Wilayah pemakaian bahasa Indonesia sangat luas, sehingga mengakibatkan bermacam-macam pula latar belakang penuturnya. Hal itu menjadikan bahasa Indonesia sangat beragam. Adanya bermacam-macam ragam bahasa disesuaikan dengan fungsi, kedudukan, serta lingkungan yang berbeda-beda. Ragam bahasa pada pokoknya dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu ragam lisan dan ragam tulis.
Bahasa Indonesia ragam lisan sangat berbeda dengan bahasa Indonesia ragam tulis. Kaidah yang berlaku bagi ragam lisan belum tentu berlaku bagi ragam tulis. Kedua ragam itu berbeda. Perbedaannya adalah sebagai berikut.
1.      Ragam lisan menghendaki adanya orang kedua, teman berbicara yang berada di depan pembicara, sedangkan ragam lisan tidak mengharuskan adanya teman bicara berada di depan.
2.      Di dalam ragam lisan unsur-unsur fungsi gramatikal, seperti subjek, predikat, dan objek tidak selalu dinyatakan. Hal itu disebabkan oleh bahasa yang digunakan itu dapat dibantu oleh gerak, mimik, pandangan, anggukan atau intonasi. Di dalam ragam tulis unsur-unsur fungsi gramatikal harus nyata karena ragam tulis tidak mengharuskan orang kedua berada di depan pembicara. Kelengkapan ragam tulis menghendaki agar orang yang diajak bicara mengerti isi tulisan itu.
3.      Ragam lisan terikat pada kondisi, situasi, ruang, dan waktu. Apa yang dibicarakan secara lisan di dalam sebuah ruang kuliah hanya akan berarti dan berlaku untuk waktu itu saja. Apa yang diperbincangkan dalam suatu ruang diskusi susastra belum tentu dapat dimengerti oleh orang yang berada di luar ruang itu. Sebaliknya, ragam tulis tidak terikat oleh situali, kondisi, ruang, dan waktu. Suatu tulisan dalam sebuha buku yang ditulis oleh seorang penulis di Indonesia dapat dipahami oleh orang yang berada di Amerika atau Inggris. Sebuah buku ysng ditulis pada tahun 1985 akan dapat dipahami dan dibaca oleh orang yang hidup tahun 2008.
4.      Ragam lisan dipengaruhi oleh tinggi rendahnya dan panjang pendeknya suara, sedangkan ragam tulis dilengkapi dengan tanda baca, huruf besar, dan huruf miring.

C.     RAGAM BAKU DAN RAGAM TIDAK BAKU
Pada dasarnya, ragam tulis dan ragam lisan terdiri pula atas ragam baku dan ragam tidak baku. Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyarakat pemakaiannya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya. Ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma ragam baku.

D.    RAGAM BAKU TULIS DAN RAGAM BAKU LISAN
Dalam kehidupan berbahasa, kita sudah mengenal ragam lisan dan ragam tulis; ragam baku dan ragam tidak baku. Oleh sebab itu, muncul ragam baku tulis dan ragam baku lisan. Ragam baku tulis adalah ragam yang dipakai dengan resmi dalam buku-buku pelajaran atau buku-buku ilmiah lainnya.
Penggunaan ragam baku lisan bergantung pada besar atau kecilnya ragam darerah yang terdengar dalam ucapan. Seseorang dapat dikatakan berbahasa lisan yang baku kalau dalam pembicaraannya tidak terlalu menonjol pengartuh logat atau dialek daerahnya.

E.     RAGAM SOSIAL DAN RAGAM FUNGSIONAL
Baik ragam lisan maupun ragam tulis bahasa Indonesia ditandai pula oleh adanya ragam sosial, yaitu ragam bahasa yang sebagian norma dan aidahnya didasarkan atas kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil dalam masyarakat. Ragam fungsional, yang kadang-kadang disebut juga ragam profesional, adalah ragam bahasa yang dikaitkan dengan profesi, lembaga, lingkungan kerja, atau kegiatan tertentu lainnya.


Bahasa Indonesia DIKSI ATAU PILIHAN KATA

DIKSI ATAU PILIHAN KATA

A.    Pengertian Diksi
Diksi ialah pilihan kata. Pilihan kata merupakan satu unsur sangat penting, baik dalam dunia karang-mengarang maupun dalam dunia tutur setiap hari. Memilih kata yang setepat-tepatnya untuk menyatakan suatu  maksud dapat dicari di kamus. Kamus memberikan suatu ketepatan tentang pemakaian kata-kata. Hal ini berkaitan dengan ketepatan dalam pemaknaan.
Kata yang tepat akan membantu seseorang mengungkapkan dengan tepat apa yang ingin disampaikan, baik lisan maupun tulisan. Di samping itu, pemilihan kata harus sesuai dengan situasi dan tempat penggunaan kata tersebut.

B.     Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif adalah makna yang sesuai dengan alam nyata. Denotatif adalah suatu pengertian yang dikandung sebuah kata secara objektif. Kata makan, misalnya, bermakna memasukkan sesuatu ke dalam mulut, dikunyah, dan ditean. Makna kata makan seperti ini adalah makna denotatif.
Makna konotatif adalah makna asosiatif, makna yang timbul sebagai akibat dari sikap sosial, sikap pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakkan pada sebuah makna konseptual. Kata makan dalam makna konotatif dapat berarti untung atau pukul.
Makna-makna konotatif sifatnya lebih profesional dan persionl daripada makna denotatif. Makna denotif adalah makna yang umum. Dengan kata lain, makna konotatif adalah makna yang dikaitkan dengan suatu kondisi dan situasi tertentu.
Misalnya:
rumah                                               gedung, wisma, graha
penonton                                          pemirsa, pemerhati
dibuat                                               dirakit, disulap
sesuai                                               harmonis
tukang                                              ahli, juru
pembantu                                         asisten
pekerja                                             pegawai, karyawan
tengah                                              madya
bunting                                             hamil, mengandung
mati                                                  meninggal, wafat
Makna konotatif dan makna denotatif berhubungan erat dengan kebutuhan pemakaian bahasa. Makna denotatif arti harfiah suatu kata tanpa ada satu makna yang menyamainya, sedangkan makna konotatif adalah makna kata yang mempunyai tautan pikiran, perasaan,  dan lain-lain yang menimbulkan nilai rasa tertentu. Dengan kata lain, makna denotatif adalah makna yang bersifat umum, sedangkan makna konotatif lebih bersifat pribadi dan khusus.
Kalimat di bawah ini menunjukkan hal itu.
Dia adalah wanita cantik.(denotatif)
Dia adalah wanita manis.(konotatif)
Kata cantik lebih umum daripada kata manis. Kata cantik akan memberikan gambaran umum tentang seorang wanita. Akan tetapi, dalam kata manis terkandung suatu maksud yang lebih bersifat memukau perasaan kita.
Perhatikan kalimat di bawah ini.
Sejak dua tahun yang lalu ia membanting tulang untuk memperoleh kepercayaan masyarakat.
Kata membanting tulang (makna denotatif adalah pekerjaan membanting sebuah tulang) mengandung makna “bekerja keras” yang merupakan sebuah kata kiasan. Kata membanting tulang dapat kita masukkan ke dalam golongan kata yang bermakna konotatif.
Kata-kata yang dipakai secara kiasan pada suatu kesempatan penyampaian seperti ini disebut idiom atau ungkapan. Semua bentuk idiom atau ungkapan tergolong dalam kata yang bermakna konotatif. Kata-kata idiom atau ungkapan adalah sebagai berikut:
Keras kepala,
Panjang tangan,
Sakit hati, dan sebagainya.

C.     Makna Umum dan Khusus
Kata umum  adalah kata yang acuannya lebih luas, seperti ikan. Kata khusus adalah kata yang acuannya lebih khusus, seperti gurame, lele, tawes, dan ikan mas. Kata umum disebut superordinat, kata khusus disebut hiponim.
Contoh:
Kata umum                                         Kata Khusus
bunga                                                  mawar, dahlia, anggrek
ikan                                                     gurame, lele, tawes, ikan mas
hewan mamalia                                   sapi, kerbau, kuda, keledai

D.    Kata Konkret dan Kata Abstrak
Kata yang acuannnya semakin mudah diserap pancaindra disebut kata konkret, seperti meja, rumah, mobil, air, cantik, hangat, wangi, suara. Jika acuan kata tidak mudah diserap pancaindera, kata itu disebut kata abstrak, seperti ide, gagasan, kesibukan, keinginan, angan-angan, kehendak dan perdamaian.

E.     Sinonim
Sinonim adalah dua kata atau lebih yang pada asasnya mempunyai makna yang sama, tetapi bentuknya berlainan. Sinonim dipergunakan untuk mengalihkan pemakaian kata pada tempat tertentu sehingga kalimat itu tidak membosankan. Kata cerdik dan cerdas. Kedua kata itu bersinonim, tetapi kedu kata tersebut tidak persis sama benar.
Contoh lain:
Agung, besar, raya
Mati, wafat, meninggal
Cahaya, sinar
Penelitian, penyelidikan
Ilmu, pengetahuan

F.      Pembentukan Kata
Ada dua cara pembentukan kata, yaitu dari dalam dan dari luar bahasa Indonesia. Dari dalam bahasa Indonesia terbentuk kosakata baru dengan dasar kata yang sudah ada, sedangkan dari luar terbentuk kata baru melalui unsur serapan.
Dari dalam bahasa Indonesia terbentuk kata baru, misalnya
Tata                                           daya                                        serba
Tata buku                                  daya tahan                              serba putih
Tata bahasa                               daya pukul                              serba plastik
Tata rias                                    daya tarik                               serba kuat
Tata cara                                   daya serap                              serba tahu

Hari                                           tutup                                       lepas
Hari sial                                     tutup tahun                             lepas tangan
Hari jadi                                    tutup buku                              lepas pantai
Hari besar                                  tutup usia                                lepas landas
Dari luar bahasa Indonesia terbentuk kata-kata melalui unsur serapan. Bentuk-bentuk serpan itu ada empat macam.
1.      Mengambil kata yang sudah sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia. Yang termasuk kata-kata itu ialah.
Bank,
Opname, dan
Golf.
2.      Mengambil kata dan menyesuaikan kata itu dengan ejaan bahasa Indonesia. Yang termasuk kata-kata itu ialah.
Subject                                subjek
Apotheek                             apotek
Standard                             standar
University                            universitas
3.      Menerjemhkan dan memadankan istillah-istilah asing ke dalam bahasa Indonesia. Yang tergolong ke dalam bentuk ini ialah.
Starting point                      titik tolak
Meet the press                     jumpa pers
Up to date                           mutakhir
Briefing                               taklimat
Hearing                               dengar pendapat
4.      Mengambil istilah yang tetap seperti aslinya karena sifat keuniversalannya. Yang termasuk golongan ini ialah.
De facto
Status quo
Cum laude
Ad hoc
5.      Menyerap kata dari bahasa daerah.
Configuration                      konfigurasi
Pavilion                               anjungan
List                                      senarai
Airport                                bandara
Editing                                penyuntingan
Established                          mapan
General rehearsal               geladi bersih
Image                                  citra
Sophisticated                       canggih
Take off                               lepas landas
Mach                                   kurapan
Gap                                     kesenjangan
Customer                            pelanggan
Ambiguous                          taksa
Supervision                         penyelia
Full time                              purnawaktu
Drain                                  salir

Domain                               ranah