Tampilkan postingan dengan label - BAHASA INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label - BAHASA INDONESIA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Oktober 2016

BAHASA INDONESIA DENGAN BERBAGAI RAGAMNYA

BAHASA INDONESIA
DENGAN BERBAGAI RAGAMNYA


A.    PENTING ATAU TIDAKNYA BAHASA INDONESIA
Sebuah bahasa penting atau tidak penting dapat dilihat dari tiga kriteria, yaitu jumlah penutur, luas daerah penyebarannya, dan terpakainya bahasa itu dalam sarana ilmu, budaya, dan susastra.
1.      Dipandang dari Jumlah Penutur
Ada dua bahasa di Indonesia, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Bahasa Indonesia lahir sebagai bahasa kedua bagi sebagian besar warga Indonesia. Bahasa pertama yang dikuasai seseorang adalah bahasa daerah. Bahasa Indonesia baru dikenal anak-anak setelah mereka sampai pada usia sekolah.
Berdasarkan keterangan di atas, penutur bahasa Indonesia yang mempergunakan bahasa Indonesia sebagai “bahasa ibu” tidak besar jumlahnya. Apabila kita memandang bahasa Indonesia sebagai “bahasa ibu”, bahasa Indonesia itu tidak penting. Akan tetapi, pandangan kita tidak tertuju pada masalah “bahasa ibu”. Jumlah penutur yang dimaksud adalah jumlah penutur yang memberlakukan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Penutur bahasa Indonesia lebih dari 240 juta orang ditambah dengan penutur-penutur yang berbeda di luar Indonesia. Hal ini menunjukkan bahsa bahasa Indonesia sangat penting kedudukannya di kalangan masyarakat.
2.      Dipandang dari Luas Penyebarannya
Penyebaran suatu bahasa tentu ada hubungannya dengan penutur bahasa itu. Oleh sebab itu, tersebarnya suatu bahasa tidak dapat dilepaskan dari segi penutur. Penutur bahasa Indonesia telah tersebar dari Sabang sampai Merauke. Daerah ini masih harus ditambah dengan daerah-daerah lain, sperti Australia, Belanda, Rusia, dan Jepang. Luas penyebaran ini dapat dilihat pula pada beberapa universitas di luar negeri yang membuka jurusan Bahasa Indonesia. Keadaan daerah penyebaran ini akan membuktikan bahwa bahasa Indonesia amat penting kedudukannya di antara bahasa-bahasa dunia.
3.      Dipandang dari Dipakainya sebagai Sarana Ilmu, Budaya, dan Susastra
Sejalan dengan jumlah penutur dan luas penyebarannya, pemakaian suatu bahasa sebagai sarana ilmu, budaya, dan susastra dapat dijadikan pula ukuran penting atau tidaknya bahasa tersebut. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai sarana ilmu dipakai pada saat menulis surat, membuat artikel ilmiah, karya ilmiah, tugas akhir, skripsi dan lain sebagainya. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai sarana budaya dipakai dalam berkomunikasi, bertutur sosial, bernyanyi, dan sebagainya. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai sarana susastra dipakai pada saat membuat karya sastra berupa puisi, prosa dan drama.
Ketiga hal di atas menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Indonesia sebagai sarana ilmu pengetahuan, budaya, dan susastra telah berjalan dengan baik. Hal ini membuktikan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang penting.

B.     RAGAM LISAN DAN RAGAM TULIS
Wilayah pemakaian bahasa Indonesia sangat luas, sehingga mengakibatkan bermacam-macam pula latar belakang penuturnya. Hal itu menjadikan bahasa Indonesia sangat beragam. Adanya bermacam-macam ragam bahasa disesuaikan dengan fungsi, kedudukan, serta lingkungan yang berbeda-beda. Ragam bahasa pada pokoknya dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu ragam lisan dan ragam tulis.
Bahasa Indonesia ragam lisan sangat berbeda dengan bahasa Indonesia ragam tulis. Kaidah yang berlaku bagi ragam lisan belum tentu berlaku bagi ragam tulis. Kedua ragam itu berbeda. Perbedaannya adalah sebagai berikut.
1.      Ragam lisan menghendaki adanya orang kedua, teman berbicara yang berada di depan pembicara, sedangkan ragam lisan tidak mengharuskan adanya teman bicara berada di depan.
2.      Di dalam ragam lisan unsur-unsur fungsi gramatikal, seperti subjek, predikat, dan objek tidak selalu dinyatakan. Hal itu disebabkan oleh bahasa yang digunakan itu dapat dibantu oleh gerak, mimik, pandangan, anggukan atau intonasi. Di dalam ragam tulis unsur-unsur fungsi gramatikal harus nyata karena ragam tulis tidak mengharuskan orang kedua berada di depan pembicara. Kelengkapan ragam tulis menghendaki agar orang yang diajak bicara mengerti isi tulisan itu.
3.      Ragam lisan terikat pada kondisi, situasi, ruang, dan waktu. Apa yang dibicarakan secara lisan di dalam sebuah ruang kuliah hanya akan berarti dan berlaku untuk waktu itu saja. Apa yang diperbincangkan dalam suatu ruang diskusi susastra belum tentu dapat dimengerti oleh orang yang berada di luar ruang itu. Sebaliknya, ragam tulis tidak terikat oleh situali, kondisi, ruang, dan waktu. Suatu tulisan dalam sebuha buku yang ditulis oleh seorang penulis di Indonesia dapat dipahami oleh orang yang berada di Amerika atau Inggris. Sebuah buku ysng ditulis pada tahun 1985 akan dapat dipahami dan dibaca oleh orang yang hidup tahun 2008.
4.      Ragam lisan dipengaruhi oleh tinggi rendahnya dan panjang pendeknya suara, sedangkan ragam tulis dilengkapi dengan tanda baca, huruf besar, dan huruf miring.

C.     RAGAM BAKU DAN RAGAM TIDAK BAKU
Pada dasarnya, ragam tulis dan ragam lisan terdiri pula atas ragam baku dan ragam tidak baku. Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyarakat pemakaiannya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya. Ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma ragam baku.

D.    RAGAM BAKU TULIS DAN RAGAM BAKU LISAN
Dalam kehidupan berbahasa, kita sudah mengenal ragam lisan dan ragam tulis; ragam baku dan ragam tidak baku. Oleh sebab itu, muncul ragam baku tulis dan ragam baku lisan. Ragam baku tulis adalah ragam yang dipakai dengan resmi dalam buku-buku pelajaran atau buku-buku ilmiah lainnya.
Penggunaan ragam baku lisan bergantung pada besar atau kecilnya ragam darerah yang terdengar dalam ucapan. Seseorang dapat dikatakan berbahasa lisan yang baku kalau dalam pembicaraannya tidak terlalu menonjol pengartuh logat atau dialek daerahnya.

E.     RAGAM SOSIAL DAN RAGAM FUNGSIONAL
Baik ragam lisan maupun ragam tulis bahasa Indonesia ditandai pula oleh adanya ragam sosial, yaitu ragam bahasa yang sebagian norma dan aidahnya didasarkan atas kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil dalam masyarakat. Ragam fungsional, yang kadang-kadang disebut juga ragam profesional, adalah ragam bahasa yang dikaitkan dengan profesi, lembaga, lingkungan kerja, atau kegiatan tertentu lainnya.


Bahasa Indonesia DIKSI ATAU PILIHAN KATA

DIKSI ATAU PILIHAN KATA

A.    Pengertian Diksi
Diksi ialah pilihan kata. Pilihan kata merupakan satu unsur sangat penting, baik dalam dunia karang-mengarang maupun dalam dunia tutur setiap hari. Memilih kata yang setepat-tepatnya untuk menyatakan suatu  maksud dapat dicari di kamus. Kamus memberikan suatu ketepatan tentang pemakaian kata-kata. Hal ini berkaitan dengan ketepatan dalam pemaknaan.
Kata yang tepat akan membantu seseorang mengungkapkan dengan tepat apa yang ingin disampaikan, baik lisan maupun tulisan. Di samping itu, pemilihan kata harus sesuai dengan situasi dan tempat penggunaan kata tersebut.

B.     Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif adalah makna yang sesuai dengan alam nyata. Denotatif adalah suatu pengertian yang dikandung sebuah kata secara objektif. Kata makan, misalnya, bermakna memasukkan sesuatu ke dalam mulut, dikunyah, dan ditean. Makna kata makan seperti ini adalah makna denotatif.
Makna konotatif adalah makna asosiatif, makna yang timbul sebagai akibat dari sikap sosial, sikap pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakkan pada sebuah makna konseptual. Kata makan dalam makna konotatif dapat berarti untung atau pukul.
Makna-makna konotatif sifatnya lebih profesional dan persionl daripada makna denotatif. Makna denotif adalah makna yang umum. Dengan kata lain, makna konotatif adalah makna yang dikaitkan dengan suatu kondisi dan situasi tertentu.
Misalnya:
rumah                                               gedung, wisma, graha
penonton                                          pemirsa, pemerhati
dibuat                                               dirakit, disulap
sesuai                                               harmonis
tukang                                              ahli, juru
pembantu                                         asisten
pekerja                                             pegawai, karyawan
tengah                                              madya
bunting                                             hamil, mengandung
mati                                                  meninggal, wafat
Makna konotatif dan makna denotatif berhubungan erat dengan kebutuhan pemakaian bahasa. Makna denotatif arti harfiah suatu kata tanpa ada satu makna yang menyamainya, sedangkan makna konotatif adalah makna kata yang mempunyai tautan pikiran, perasaan,  dan lain-lain yang menimbulkan nilai rasa tertentu. Dengan kata lain, makna denotatif adalah makna yang bersifat umum, sedangkan makna konotatif lebih bersifat pribadi dan khusus.
Kalimat di bawah ini menunjukkan hal itu.
Dia adalah wanita cantik.(denotatif)
Dia adalah wanita manis.(konotatif)
Kata cantik lebih umum daripada kata manis. Kata cantik akan memberikan gambaran umum tentang seorang wanita. Akan tetapi, dalam kata manis terkandung suatu maksud yang lebih bersifat memukau perasaan kita.
Perhatikan kalimat di bawah ini.
Sejak dua tahun yang lalu ia membanting tulang untuk memperoleh kepercayaan masyarakat.
Kata membanting tulang (makna denotatif adalah pekerjaan membanting sebuah tulang) mengandung makna “bekerja keras” yang merupakan sebuah kata kiasan. Kata membanting tulang dapat kita masukkan ke dalam golongan kata yang bermakna konotatif.
Kata-kata yang dipakai secara kiasan pada suatu kesempatan penyampaian seperti ini disebut idiom atau ungkapan. Semua bentuk idiom atau ungkapan tergolong dalam kata yang bermakna konotatif. Kata-kata idiom atau ungkapan adalah sebagai berikut:
Keras kepala,
Panjang tangan,
Sakit hati, dan sebagainya.

C.     Makna Umum dan Khusus
Kata umum  adalah kata yang acuannya lebih luas, seperti ikan. Kata khusus adalah kata yang acuannya lebih khusus, seperti gurame, lele, tawes, dan ikan mas. Kata umum disebut superordinat, kata khusus disebut hiponim.
Contoh:
Kata umum                                         Kata Khusus
bunga                                                  mawar, dahlia, anggrek
ikan                                                     gurame, lele, tawes, ikan mas
hewan mamalia                                   sapi, kerbau, kuda, keledai

D.    Kata Konkret dan Kata Abstrak
Kata yang acuannnya semakin mudah diserap pancaindra disebut kata konkret, seperti meja, rumah, mobil, air, cantik, hangat, wangi, suara. Jika acuan kata tidak mudah diserap pancaindera, kata itu disebut kata abstrak, seperti ide, gagasan, kesibukan, keinginan, angan-angan, kehendak dan perdamaian.

E.     Sinonim
Sinonim adalah dua kata atau lebih yang pada asasnya mempunyai makna yang sama, tetapi bentuknya berlainan. Sinonim dipergunakan untuk mengalihkan pemakaian kata pada tempat tertentu sehingga kalimat itu tidak membosankan. Kata cerdik dan cerdas. Kedua kata itu bersinonim, tetapi kedu kata tersebut tidak persis sama benar.
Contoh lain:
Agung, besar, raya
Mati, wafat, meninggal
Cahaya, sinar
Penelitian, penyelidikan
Ilmu, pengetahuan

F.      Pembentukan Kata
Ada dua cara pembentukan kata, yaitu dari dalam dan dari luar bahasa Indonesia. Dari dalam bahasa Indonesia terbentuk kosakata baru dengan dasar kata yang sudah ada, sedangkan dari luar terbentuk kata baru melalui unsur serapan.
Dari dalam bahasa Indonesia terbentuk kata baru, misalnya
Tata                                           daya                                        serba
Tata buku                                  daya tahan                              serba putih
Tata bahasa                               daya pukul                              serba plastik
Tata rias                                    daya tarik                               serba kuat
Tata cara                                   daya serap                              serba tahu

Hari                                           tutup                                       lepas
Hari sial                                     tutup tahun                             lepas tangan
Hari jadi                                    tutup buku                              lepas pantai
Hari besar                                  tutup usia                                lepas landas
Dari luar bahasa Indonesia terbentuk kata-kata melalui unsur serapan. Bentuk-bentuk serpan itu ada empat macam.
1.      Mengambil kata yang sudah sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia. Yang termasuk kata-kata itu ialah.
Bank,
Opname, dan
Golf.
2.      Mengambil kata dan menyesuaikan kata itu dengan ejaan bahasa Indonesia. Yang termasuk kata-kata itu ialah.
Subject                                subjek
Apotheek                             apotek
Standard                             standar
University                            universitas
3.      Menerjemhkan dan memadankan istillah-istilah asing ke dalam bahasa Indonesia. Yang tergolong ke dalam bentuk ini ialah.
Starting point                      titik tolak
Meet the press                     jumpa pers
Up to date                           mutakhir
Briefing                               taklimat
Hearing                               dengar pendapat
4.      Mengambil istilah yang tetap seperti aslinya karena sifat keuniversalannya. Yang termasuk golongan ini ialah.
De facto
Status quo
Cum laude
Ad hoc
5.      Menyerap kata dari bahasa daerah.
Configuration                      konfigurasi
Pavilion                               anjungan
List                                      senarai
Airport                                bandara
Editing                                penyuntingan
Established                          mapan
General rehearsal               geladi bersih
Image                                  citra
Sophisticated                       canggih
Take off                               lepas landas
Mach                                   kurapan
Gap                                     kesenjangan
Customer                            pelanggan
Ambiguous                          taksa
Supervision                         penyelia
Full time                              purnawaktu
Drain                                  salir

Domain                               ranah

Bahasa Indonesia Penerapan Kaidah Ejaan

PENERAPAN KAIDAH EJAAN

A.    PENGERTIAN EJAAN
Yang dimaksud dengan ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana antarhubungan antara lambang-lambang itu (pemisahan dan penggabungannya dalam suatu bahasa).
B.     EJAAN BAHASA INDONESIA YANG DISEMPURNAKAN
Beberapa hal yang perlu dikemukakan sehubungan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan adalah sebagai berikut.
1.      Perubahan Huruf
Ejaan Soewandi                                            Ejaan yang Disempurnakan
dj       djalan, djauh                                       j           jalan, jauh
j         pajung, laju                                          y          payung, layu
nj       njonja, bunji                                        ny        nyonya, bunyi
sj       isjarat, masjarakat                                sy         isyarat, masyarakat
tj        tjukup, tjutji                                        c          cukup, cuci
ch      tarich, achir                                         kh        tarikh, akhir
2.      Huruf-huruf di bawah ini, yang sebelumnya sudah terdapat dalam Ejaan Soewandi sebagai unsur pinjaman abjad asing, diresmikan pemakaiannya.
f        maaf, fakir
v        valuta, universitas
z        zeni, lezat
3.      Huruf-huruf q dan x yang lazim digunakan dalam ilmu eksakta tetap dipakai.
Sinar-X
4.      Penulisan di- atau ke sebagai awalan dan di atau ke sebagai kata depan dibedakan, yaitu di- atau ke- sebagai awalan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, sedangkan di atau ke sebagai kata depan ditulis terpisah dengan yang mengikutinya.
di- (awalan)                                       di (kata depan)
ditulis                                                di kampus
dibakar                                              di rumah
dilempar                                            di jalan
dipikirkan                                          di sini
ketua                                                 ke kampus
kekasih                                              ke luar negeri
kehendak                                          ke atas
5.      Kata ulang ditulis penuh dengan huruf, tidak boleh digunakan angka 2.
Anak-anak, berjalan-jalan, meloncat-loncat
Ejaan ini berbicara tentang; 1) pemakaian huruf, 2) penulisan huruf, 3) penulisan kata, 4) penulisan unsur-unsur serapan, dan 5) pemakaian tanda baca.

C.     PEMAKAIAN HURUF
1.      Nama-nama huruf
Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf berikut.
Huruf      Nama                                           Huruf     Nama
A            a             a                                    N           n               en
B             b            be – bukan bi                O           o               o
C             c             ce – bukan si                 P            p               pe
D            d            de                                  Q           q               ki – bukan kyu
E             e             e                                    R            r               er
F             f             ef                                   S            s               es
G            g            ge – bukan ji                 T            t               te – bukan ti
H            h            ha                                  U           u               u
I              i             i                                     V           v               fe
J              j             je                                   W           w              we
K            k            ka                                  X           x               eks – bukan ek
L             l             el                                   Y           y               ye – bukan ey
M            m           em                                 Z            z               zet
Di samping itu, dalam bahasa Indonesia terdapat pula diftong, yang biasa dieja au, ai, dan oi yang dilafalkan sebagai vokal yang diikuti oleh bunyi konsonan luncuran w atau y. Dalam bahasa Indonesia terdapat juga konsonan yang terdiri atas gabungan huruf, seperti kh, ng, ny, dan sy.
Dalam hal-hal khusus terdapat juga gabungan huruf nk, misalnya dalam bank dan sanksi, sedangkan pemakaian gabungan huruf dl, dh, gh, dz, th, dan ts, seperti dalam kata hadlir, dharma, maghrib, adzan, bathin, dan hatsil tidak mungkin digunakan dalam bahasa Indonesia.
Huruf e dapat dilafalkan menjadi e benar, seperti terdapat dalam kata-kata lele, beres, materi, merah, dan kaget, dan dapat pula dilafalkan menjadi e lemah atau e pepet, seperti terdapat dalam kata-kata beras, segan, kenal, benar, dan cepat.
2.      Semua singkatan atau kata yang terdapat dalam bahasa Indonesa termasuk singkatan yang berasal dari bahasa asing harus dilafalkan secara lafal Indonesia.
Singkatan/Kata                             Lafal Tidak Baku                 Lafal Baku
AC                                                [ a se]                                   [a ce]
BBC                                             [bi bi si]                                [be be ce]
IUD                                              [ay yu di]                             [i u de]
TVRI                                            [ti vi er i]                              [te ve er i]
Logis                                            [lohis]                                   [logis]
Pascasarjana                                 [paskasarjana]                      [pascasarjana]
Akronim bahasa asing (singkatan yang dieja seperti kata) yang bersifat internasional mempunyai kaidah tersendiri, yakni tidak dilafalkan seperti lafal Indonesia, tetapi singkatan itu tetap dilafalkan seperti lafal aslinya.
Kata                                    Lafal Tidak Baku          Lafal Baku
Unesco                                [u nes tjo]                      [yu nes ko]
Unicef                                 [u ni tjef]                       [yu ni sef]
3.      Persukuan
Persukuan ini diperlukan, terutama pada saat kita harus memenggal sebuah kata dalam tulisan jika terjadi pergantian baris. Apabila memenggal atau menyukukan sebuah kata, kita harus membubuhkan tanda hubung (-) di antara suku-suku kata itu tanpa jarak/ spasi.
4.      Penulisan nama diri
Penulisan nama diri, nama sungai, gunung, jalan, dan sebagainya disesuaikan dengan kaidah yang berlaku. Penulisan nama orang, badan hukum, dan nama diri lain yang sudah lazim, disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, kecuali apabila ada pertimbangan khusus. Pertimbangan khusus itu menyangkut segi adat, hukum, atau kesejarahan.
Universitas Padjadjaran
Soepomo Poedjosoedarmo
Imam Chourmain
Dji Sam Soe
D.    PENULISAN HURUF
Dalam Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, penulisan huruf menyangkut dua masalah, yaitu (1) penulisan huruf kapital dan (2) penulisan huruf miring.
1.      Penulisan huruf kapital
a.       Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kalimat berupa petikan langsung.
Misalnya:
1)      Dia bertanya, “Kapan kita pulang.”
2)      Archimides berkata, “Setiap benda yang dimasukkan ke dalam zat cair akan mendapatkan tekanan ke atas sehingga beratnya berkurang seberat zat cair yang dipindahkannya.”
b.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan hal-hal keagamaan, kitab suci, dan nama Tuhan, termasuk kata ganti –Nya. Huruf pertama pada kata ganti ku, mu, dan nya, sebagai kata ganti Tuhan, harus dituliskan dengan huruf kapital, dirangkaikan dengan tanda hubung (-). Hal-hal keagamaan itu hanya terbatas pada nama diri, sedangkan kata-kata yang menunjukkan nama jenis, seperti jin, iblis, surga, malaikat, mahsyar, zakat, dan  puasa, meskipun bertalian dengan keagamaan tidak diawali dengan huruf kapital.
Misalnya:
1)      Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya
2)      Di dalam Alquran terdapat ayat-ayat yang menganjurkan agar manusia berakhlak terpuji.
c.       Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar (kehormatan, keturunan, agama), jabatan, dan pangkat yang diikuti nama orang.
Misalnya:
1)      Pemerintah memberikan anugerah kepada Mahaputra Yamin.
2)      Ketua DPR RI Agung Laksono berpendapat bahwa peningkatan imbalan gaji pegawai negeri harus diimbangi oleh kualitas kerja pegawai negeri.
Jika tidak diikuti oleh nama orang atau nama wilayah, nama gelar, jabatan, dan pankat itu harus dituliskan dengan huruf kecil.
Misalnya:
Ia bercita-cita menjadi gubernur.
Akan tetapi, jika mengacu kepada orang tertentu, nama gelar, jabatan, dan pangkat itu dituliskan dengan huruf kapital.
Misalnya:
Pagi ini Menteri Perindustrian terbang ke Nusa Penida. Di Nusa Penida Menteri meresmikan sebuah kolam renang.
d.      Kata-kata van, den, da, de, di, bin, dan ibnu yang digunakan sebagai nama orang tetap ditulis dengan huruf kecil, kecuali jika kata-kata digunakan sebagai nama pertama atau terletak pada awal kalimat.
Misalnya:
1)      Harta yang melimpah milik Jufri ibnu Sulaiman sebagian besar akan disumbangkan ke panti asuhan.
2)      Menurut Ibnu Sina, akar tumbuhan tertentu mengandung khasiat untuk menyembuhkan penyakit.
e.       Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa.
Misalnya :
Kita bangsa Indonesia, harus bertekad untuk memajukan pembangunan.
Demikian juga, jika tidak membawa nama suku, nama itu harus dituliskan dengan huruf kecil.
Misalnya:
petai cina                          gula jawa
jeruk bali                          kunci inggris
kertas manila                    pisang ambon
f.       Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
g.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama khas geografi.
Misalnya:
Sampah di Sungai Ciliwung akan diolah menjadi bahan pupuk dan kertas.
h.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumentasi resmi.
Misalnya:
Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia mengucapkan sumpah di depan Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat.
Akan tetapi, jika tidak menunjukkan nama resmi, kata-kata seperti itu ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya:
Indonesia adalah suatu negara yang berbentuk republik.
i.        Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata partikel seperti di, ke, dari, untuk, dan yang, yang terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnaka diterbitkan oleh Balai Pustaka.
j.        Huruf kapital dipakai dalam singkatan nama gelar dan sapaan, kecuali gelar dokter.
Misalnya:
1)      Proyek itu dipimpin oleh Dra. Jasika Murni.
2)      Penyakit ayah saya sudah dua kali diperiksa oleh dr. Siswoyo.
k.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai sebagai kata ganti atau sapaan. Singkatan pak, bu, kak dik, diikuti oleh nama orang/ nama jabatan.
Misalnya:
1)      Surat Saudara sudah saya terima.
2)      Selamat pagi, Pak!
2.      Penulisan huruf miring
a.       Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam karangan. Dalam tulisan tangan atau ketikan, kata yang harus ditulis dengan huruf miring ditandai dengan garis bawah satu.
Misalnya:
1)      Berita itu sudah saya baca dalam surat kabar Kompas dan Suara Merdeka.
2)      Buku Negarakertagama dikarang oleh Mpu Prapanca.
b.      Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata.
Buatlah kalimat dengan kata dukacita.
c.       Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama-nama ilmiah atau ungkapan bahasa asing atau bahasa daerah, kecuali yang disesuaikan ejaannya.
Misalnya:
Nama ilmiah buah manggis ialah carcinia mangestana.

E.     PENULISAN KATA
a.       Kata dasar ditulis sebagai satu satuan yang berdiri sendiri, sedangkan pada kata turunan, imbuhan (awalan, sisipan, atau akhiran) dituliskan serangkai dengan kata dasarnya. Jika gabungan kata hanya mendapat awalan atau akhiran, awalan atau akhiran itu dituliskan serangkai dengan kata yang bersangkutan.
Bentuk Tidak Baku                               Bentuk Baku
di didik                                                  dididik
di suruh                                                  disuruh
berterimakasih                                       berterima kasih
beritahukan                                            beri tahukan
sebarluaskan                                          sebar luaskan
Jika gabungan kata sekaligus mendapat awalan dan akhiran, bentuk kata turunannya itu harus dituliskan seragkai.
Bentuk Tidak Baku                               Bentuk Baku
memberi tahukan                                   memberitahukan
menyebar luaskan                                  menyebarluaskan
ketidak adilan                                        ketidakadilan
b.      Kata ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung. Kata ulang tidak hanya berupa pengulangan kata dasar, kata turunan, dan pengulangan kata yang mendapat awalan dan akhiran.
Bentuk Tidak Baku                               Bentuk Baku
jalan2                                                     jalan-jalan
sayur mayur                                           sayur-mayur
di-besar2-kan                                         dibesar-besarkan
bolak balik                                             bolak-balik
c.       Gabungan kata termasuk yang lazim disebut kata majemuk bagian-bagiannya dituliskan terpisah.
Misalnya:
Bentuk Tidak Baku                               Bentuk Baku
tatabahasa                                              tata bahasa
kerjasama                                               kerja sama
orangtua                                                 orang tua
serahterima                                            serah terima
Gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata dituliskan serangkai.
Misalnya:
Bentuk Tidak Baku                               Bentuk Baku
sekali gus                                               sekaligus
dari pada                                                daripada
apa bila                                                  apabila
segi tiga                                                 segitiga       
d.      Kata ganti ku dan kau – yang ada pertaliannya dengan aku dan engkau – ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; kata ganti ku, mu, dan nya- yang ada pertaliannya dengan aku, kamu, dan dia – ditulis serangkai dengan yang mendahuluinya.
Misalnya:
1)      Masalah banjir kukemukakan dalam diskusi antardepartemen.
2)      Kalau mau, boleh kauambil buku itu.
3)      Pikiranmu dan kata-katamu berguna untuk memajukan negeri ini.
4)      Penemuannya dalam bidang mikrobiologi sangat mengejutkan dunia ilmu dan teknologi.
e.       Kata depan, di, ke dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali jika berupa gabungan kata yang sudah dianggap padu benar, seperti kepada dan daripada.
Misalnya:
Ketika truk Belanda sudah bergerak dari timur ke barat, gerilyawan yang bersembunyi di bawah kaki bukit lari ke arah utara.
f.       Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata, ditulis, dengan huruf, kecuali jika beberapa lambang dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian atau pemaparan.
Misalnya:
1)      Ada sekitar lima puluh calon mahasiswa yang tidak diterima di universitas ini.
2)      Kendaraan yang beroperasi di DKI Jakarta terdiri atas 1.000 mobil, 100 metro mini, dan 50 bus kota.
g.      Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Susunan kalimat dapat diubah sehingga yang tidak bisa dinyatakan dengan satu atau dua kata, tidak terdapat lagi pada awal kalimat.
Misalnya:
Bentuk Tidak Baku
1)      12 orang menderita luka berat dalam kecelakaan itu.
2)      150 orang pegawai mendapat penghargaan dari Pemerintah.
Bentuk Baku
1)      Dua belas orang menderita luka berat dalam kecelakaan itu.
2)      Sebanyak 150 orang pegawai mendapat penghargaan dari Pemerintah.
h.      Dokumen resmi, seperti akta dan kuitansi, bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks.
Misalnya:
Bentuk Tidak Baku
1)      Jumlah pegawai di perusahaan itu 12 (dua belas) orang.
2)      Di perpustakaan kami tercatat 350 (tiga ratus lima puluh) buah buku.
Bentuk Baku
1)      Jumlah pegawai di perusahaan itu dua belas orang.
2)      Di perpustakaan kami tercatat 350 buah buku.

F.      PENULISAN UNSUR SERAPAN
Berdasarkan taraf integrasinya unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar.
Pertama, unsur yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock, unsur-unsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing.
Kedua, unsur asing yang pengucapannya dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia diusahakan agar ejaan asing hanya diubah seperlunya hingga bentuk Indonesia masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.
Berikut ini didaftarkan sebagian kata asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia, yang sering digunakan oleh pemakai bahasa.
Kata asing
Penyerapan yang salah
Penyerapan yang benar
Risk
Resiko
Risiko
System
Sistim
Sistem
Effective
Efektip
Efektif
Technique
Tehnik, tehnologi
Teknik, teknologi
Method
Metoda
Metode
Frequency
Frekwensi
Frekuensi
Practical
Praktek
Praktik
Description
Diskripsi
Deskripsi
Kuitantie
kwitansi
kuitansi
Quality
Kwalitas
Kualitas
Ideal
Idiil
Ideal
Management
Managemen
Manajemen
Coordinasi
Kordinasi
Koordinasi
Survey
Survei
Survai
Carier
Karir
Karier
Mass media
Mass media
Media masa
Ambulance
Ambulan
Ambulans
Analysis
Analisa
Analisis
Complex
Komplek
kompleks
Efficient
Effisien
Efisien
Taxi
Taxi
Taksi
Activity
Aktifitas
Aktivitas
Februari
Pebruari
Februari
November
Nopember
November

G.    PEMAKAIAN TANDA BACA
Pemakaian tanda baca dalam ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan mencakup pengaturan;
1.      Tanda titik (.)
a.       Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.
1)      W.S Rendra
2)      Abdul Hadi W.M.
3)      Ach. Sanusi
b.      Tanda titik dipakai pada singkatan gelar, jabatan, pangkat dan sapaan.
1)      Dr.
2)      Drs.
3)      M.Hum
4)      Ny.
5)      Sdr.
6)      Kol.
c.       Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah umum, yang ditulis dengan huruf kecil.
1)      s.d
2)      a.n
3)      dkk.
4)      Tsb.
d.      Tanda titik digunakan pada angka yang menyatakan jumlah untuk memisahkan ribuan, jutaan, dan seterusnya.
1)      Tebal buku itu 1.150 halaman.
2)      Jarak dari desa ke kota 30.000 meter.
Akan tetapi, jika angka itu tidak menyatakan satu jumlah, tanda titik tidak digunakkan.
1)      tahun 2000
2)      halaman 123
3)      telepon (021) 730824
e.       Tanda titik tidak digunakan pada singkatan yang terdiri atas huruf-huruf awal kata atau suku kata dan pada singkatan yang dieja seperti kata (akronim).
1)      DPR
2)      SMA Negeri XX
3)      tilang
f.       Tanda titik tidak digunakan di belakang singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang.
1)      Lambang Cu adalah lambang kuprum.
2)      Seorang pialang membeli 10 kg emas batangan.
g.      Tanda titik tidak digunakan di belakang judul yang merupakan kepala karangan, kepala ilustrasi tabel, dan sebagainya.
1)      Wanita Indonesia di Pentas Sejarah
2)      Azab dan Sengsara
h.      Tanda titik tidak digunakan di belakang alamat pengirim dan tanggal surat serta di belakang nama dan alamat penerima surat.
1)      Jalan Harapan III/AB 19
2)      Jakarta, 19 September 2016
3)      Yth. Sdr. Imam Kurnia
Jalan Cisarua 12
Tasikmalaya
2.      Tanda koma (.)
a.       Tanda koma harus digunakan di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.
1)      Saya menerima hadiah dari Paman berupa jam tangan, raket, dan sepatu.
2)      Departemen Pariwisata, Seni, dan Budaya.
b.      Tanda koma harus digunakan untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata tetapi, melainkan, dan sedangkan.
1)      Dia bukan mahasiswa Poltekkes, melainkan mahasiswa Unikal.
2)      Saya bersedia membantu, tetapi kaukerjakan dahulu tugas itu.
c.       Tanda koma harus digunakan untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimatnya. Biasanya, anak kalimat didahului oleh kata penghubung bahwa, karena, agar, sehingga, walaupun, apabila, jika, meskipun, dan sebagainya.
1)      Apabila belajar sungguh-sungguh, Saudara akan berhasil dalam ujian.
2)      Agar cita-cita Saudara tercapai, Saudara harus bekerja keras.
d.      Tanda koma harus digunakan di belakang kata atau ungkapann penghubung antarkalimat yang terdapat pada awl kalimat. Termasuk di dalamnya oeh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi, namun, meskipun demikian, dalam hubungan itu, sementara itu, sehubungan dengan itu, dalam pada itu, oleh sebab itu, sebaliknya, selanjutnya, pertama, kedua, misalnya, sebenarnya, bahkan, selain itu, kalau begitu, kemudian, malah, padahal, dan sebagainya.
1)      Selanjutnya, ita akan membicarakan masalah lain.
2)      Oleh karena itu, kita harus menghormati pendapatnya.
e.       Tanda koma harus digunakan di belakang kata-kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, yang terdapat pada awal kalimat.
1)      Aduh, betulkah saya lulus tes?
2)      Kasihan, dia harus mengikuti lagi ujian akhir semester satu tahun depan.
f.       Tanda koma digunakan untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
1)      Kata petugas, “Kamu harus berhati-hati di jalan raya”
g.      Tanda koma digunakan di antara (1) nama dan alamat, (2) bagian-bagian alamat, (3) tempat dan tanggal, dan (4) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis, berurutan.
1)      Bandung, 10  April 2008
2)      Jakarta, Indonesia
h.      Tanda koma digunakan untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
1)      Tjiptadi, Bambang. 1984. Membina Bahasa Indonesia. Jakarta: Yudhistira
i.        Tanda koma digunakan di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama keluarga atau marga.
1)      Sudarsono, S.E.
2)      Ariesma S, S.Pd.,M.Hum
j.        Tanda koma digunakan untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi.
1)      Seorang warga, selaku wakil RT 02, mengemukakan pendapatnya.
2)      Di daerah kami, misalnya, masih banyak warga yang buta huruf.
k.      Tanda koma tidak boleh digunakan untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut megiringi induk kalimat.
1)      Menteri mengatakan bahwa pembangunan harus dilanjutkan.
2)      Semua orang akan berhasil dalam hidup jika bekerja keras.
3.      Tanda titik koma (;)
Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Misalnya:
Para pemikir mengatur strategi dan langkah yang harus ditempuh; para pelaksana mengerjakan tugas sebaik-baiknya; para penyandang dana menyediakan biaya yang diperlukan.
4.      Tanda titik dua (:)
a.       Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
Misalnya:
Perguruan Tinggi Nusantara mempunyai tiga jurusan: Sekolah Tinggi Teknik, Sekolah Tinggi Ekonomi, dan Sekolah Tinggi Hukum.
b.      Tanda titik dua tidak dipakai kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Misalnya:
Perguruaan Tinggi Nusantara mempuunyai Sekolah Tinggi Teknik, Sekolah Tinggi Ekonomi, dan Sekolah Tinggi Hukum.
5.      Tanda hubung (-)
a.       Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas  hubungan bagian-bagian ungkapan.
Misalnya: Bandingkan:
Mesin-potong tangan (mesin potong yang digunakan dengan tangan).
Mesin potong-tangan (mesin khusus untuk memotong tangan).
b.      Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan (1) se dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, (2) ke dengan angka, (3) angka dengan –an, (d) singkatan huruf kapital dengan  imbuhan atau kata.
1)      Tahun depan akan diadakan perlombaan paduan suara remaja se-Jawa Tengah di Semarang.
2)      Negara-negara yang meraih kemerdekaan pada akhir tahun 1950-an dan awal 1960-an kini tengah membangun, dan mengisi kemerdekaan.
6.      Tanda pisah (-)
Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan khusus di luar bangun kalimat, menegaskan adanya aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas, dan dipakai di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti ‘sampai dengan’ atau di antara dua nama kota yang berarti ‘ke’ atau ‘sampai’, panjangnya dua ketukan.
a.       Pemerintah Habibie dimulai sejak Mei 1998 – Desember 1999.
b.      Bus Kramatjati jurusan Banjar-Jakarta.
c.       (Moeliono, 1980: 15-31)
7.      Tanda petik (“...”)
Tanda petik dipakai untuk mengapit petikn langsung, judul syair karangan, istilah yang mempunyai arti  khusus atau kurang dikenal.
Misalnya:
Kata Hasan, “Saya ikut.”
Sajak “Aku” karangan Chairil Anwar.
8.      Tanda petik tunggal (‘...’)
Tanda petik tunggal mengapit terjemahan atau penjelsan kata atau ungkapan asing.
Misalnya:
Lailatul Qadar ‘malam bernilai’
9.      Tanda garis miring (/)
Garis dipakai untuk menyatakan
a.       Atau;
b.      Per yang artinya ‘tiap’;
c.       Tahun akademik atau tahun ajaran;
d.      Nomor rumah setelah nomor jalan;
e.       Nomor surat.
1)      Presiden/Wakil Presiden RI dapat memimpin sidang kabinet.
2)      Harga komputer Rp 5.000.000,00/unit.
3)      Ujian tengah semester  ganjil tahun akademik 2016/2017 dilaksanakan pada 24 Oktober 2016.
4)      Rumah profesor itu di jalan Kartanegara I/52.
5)      Nomor 059/F.4/PB/X/2016
10.  Penyingkat (apostrof) (‘)
Tanda apostrof (‘) digunakkan untuk menyingkatt kata. Tanda ini banyak digunakan dalam ragam sastra.
Misalnya:
‘kan kucari dari akan kucari.

LATIHAN
1.      rahmatmu,ya Allah
2.      seAsia Tenggara
3.      Perang Dunia ke II
4.      dikampungnya, kesana sini
5.      Mahatahu, maha bijaksana
6.      men PHK karyawan
7.      go public PT Telkom
8.      10 Nopember 1945
9.      Jakarta, 5 Pebruari 2016
10.  Rp 8000,- perbuah
11.  2 s/d 5 maret 2016
12.  majalah “Gatra”, harian Kompas
13.  effisient, dilegalisir
14.  segi moril dan spirituil
15.  kwalitas dan kwantitas
16.  Ahmmad SH MH
17.  D.l.l., a/n
18.  Al-Qur’an
19.  nabi Muhammad
20.  sultan Hamid II
21.  berpikirla jauh kedepan
22.  5 orang menteri
23.  Berdasarkan Undang-Undang
24.  Ia dilantik menjadi Camat
25.  atas RahmatNya
26.  Dimana engkau tinggal?
27.  Dari pada diam lebih baik bekerja.
28.  bus antar kota
29.  mempertanggung-jawabkan
30.  model ultra modern
31.  ulang tahun yang ke sepuluh
32.  Buku A.A Naviis berjudul JODOH
33.  Prof. DR. Djajanegara
34.  kunci Inggris, pisang Ambon
35.  Dia berkata: “saya suka kepadamu”
36.  Dimana rumah pak camat?
37.  Saya ingin menjadi Insinyur Pertanian.
38.  Paku Alam ke-VI
39.  Buku itu disusun oleh Usman d.k.k.

40.  Kecelakaan lalulintas