Tampilkan postingan dengan label - PENGANTAR BISNIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label - PENGANTAR BISNIS. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Oktober 2016

Pengantar Bisnis 6 TANGGUNG JAWAB SOSIAL SUATU BISNIS

PENGANTAR BISNIS
S.T.I.E  MUHAMMADIYAH PEKALONGAN

OLEH:  R. IRAWAN SUPRIYATNO, S.E, M.Si


BAB -VI

TANGGUNG JAWAB SOSIAL SUATU BISNIS





Pendahuluan

Bab ini akan menjelaskan tanggung jawab sosial suatu bisnis Dengan menyelesaikan bab ini mahasiswa diharapkan memahami etika bisnis dan tanggung jawab sosial suatu bisnis terhadap lingkungan yang harus dilakukan


1.      Benturan Dengan Kepentingan Masyarakat
Memproduksi barang/jasa untuk disajikannya kepada masyarakat atau konsumen, tidaklah jarang terjadi adanya konflik kepentingan antara kepentingan masyarakat umum dengan kepentingan perusahaan. Benturan kepentingan tsb, banyak terjadi baik terhadap perusahaan besar, menengah ataupun perusahaan kecil. Bentrokan kepentingan ini sering terjadi terutama dalam hal ditimbulkannya polusi oleh perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Polusi ini dapat berupa polusi udara, air limbah, suara dan bahkan polusi mental kejiwaan.
contoh larangan pemerintah terhadap penyiaran iklan di TVRI sejak tahun 1980 an, tindakan pemerintah ini merupakan penyelesaian konflik yang terjadi antara bisnisman yang ingin menayangkan iklannya lewat TV dengan kepentingan mental kejiwaan masyarakat yang merasa sangat terganggu oleh siaran iklan di TVRI yang sangat mendorong pada konsumen serta pengguna obat-obatan yang kurang tepat dsbnya. Tanggung jawab sosial suatu bisnis juga tercermin dari dituntutnya ganti rugi yang cukup besar oleh masyarakat sekitar pabrik yang menjadi korban atas meledaknya tanki nuklir dari suatu pabrik Gas Union Carbite di Bopal, india tahun 1986. Kemudian anjuran presiden th. 1990 kepada konglomerat Indonesia yang telah menikmati lebih banyak hasil-hasil pembangunan untuk membagikan sebagian sahamnya kepada koperasi, adalah merupakan pencerminan dari penjabaran tanggung jawab sosial suatu bisnis, dari uraian tanggung jawab sosial suatu bisnis dewasa ini menjadi suatu topik yang cukup menonjol. Bisnisman dituntut untuk lebih banyak memperhatikan aspek-aspek sosial dan menerapkan etika bisnis secara jujur. Konflik selalu muncul yang kadang kala sulit untuk menyelesaikannya, apabila konflik tsb mecapai jalan buntu atau tidak teratasi maka biasanya masyarakat akan menggunakan tangan pemerintah sebagai penengahnya. Hal hak itulah yang melatar belakangi adanya ketentuan pemerintah untuk mewajibkan kepada pengusaha yang mendirikan pabriknya harus mendapatkan izin HO (Hinder Ordonansie) agar dapat dicegah adanya konflik tsb dikemudian hari.
Disamping itu Bisnisman juga harus memperhatikan masalah menyusutnya sumber daya alam terutama yang tidak dapat diperbaharui seperti minyak bumi, gas alam, batu bara, batu kapur, semen dsbnya, selain itu sumber daya alam harus dijaga jangan sampai punah, contoh adalah hutan, unggas maupun satwa serta ikan laut dsbnya.

2.      Klasifikasi Aspek Pendorong Tanggung Jawab
Pelaksanaan tanggung jawab sosial yang harus dilaksanakan oleh suatu perusahaan menuntut diperlakukannya etika bisnis, perusahaan yang tidak memperhatikan kepentingan umum dan kemudian menimbulkan gangguan lingkungan akan dianggap sebagai bisnis yang tidak etis. Dorongan pelaksanaan etika bisnis itu pada umumnya datang dari luar yaitu dari lingkungan masyarakat, hal ini disebabkan karena pelaksanaan tanggung jawab sosial oleh suatu bisnis tidak lepas dari beban biaya  yang kadang-kadang cukup besar jumlahnya. Dengan demikian maka secara intern pelaksanaannya akan terbentur pada pertimbangan untung rugi yang pada umumnya mendominir dan menjadi ciri dari suatu bisnis.
Dorongan tidak saja datang dari luar, akan tetapi sering pula muncul dari dalam bisnis itu sendiri, hal ini disebabkan karena bisnisman, karyawannya adalah juga manusia yang lengkap dengan rasa, karsa dan karya. Oleh karena itu mereka juga sering terdorong rasa kemanusiaannya untuk menerapkan etika bisnis yang baik secara jujur, contoh adalah penerapan prinsip-prinsip manajemen terbuka (Open management), Hubungan Industrial Pancasila, Pengendalian Mutu Terpadu dengan Gusus Kendali Mutunya yang merupakan penerapan manajemen yang merupakan penerapan manajemen yang berorientasi hubungan kemanusiaan

3.      Dorongan Tanggung jawab Sosial
Problem-problem sosial seperti kebersihan kota, kesehatan lingkungan, ketertiban masyarakat, pelestarian lingkungan alam dsbnya, mendorong para bisnisman untuk melakukan kegiatan bisnisnya sering dengan terciptanya kondisi tsb, adapun masalah-masalah sosial yang mendorong suatu bisnis melaksanakan tanggung jawab sosialnya dapat diklasifikasikan menjadi 4 macam yaitu :
a)      Penerapan Manajemen Orientasi Kemanusiaan
Pada umumnya kegiatan-kegiatan intern yang terjadi didalam perusahaan menimbulkan bentuk-bentuk kedinasan yang sangat kaku, keras, birokratik dan otoriter. Prosedur administrasi yang panjang dan berbelit-belit serta jenjang wewenang/tanggung jawab dalam struktur organisasi seringkali menimbulkan tekanan bathin bagi para pelaksana maupun pihak-pihak lain yang berhubungan dengan bisnis, tidak jarang bawahan menjadi takut untuk mengemukakan pendapatnya kepada atasan, pegawai administrasi menjadi takut berbincang-bincang dengan direkturnya dsbnya, hal ini karena pada umumnya hubungan-hubungan dilaksanakan melalui surat-surat dinas, kartu dinas, kartu kerja, memo dinas, nota-nota dinas dsbnya, dan prosedur administrasi yang sangat panjang apalagi otoriter. Hubungan kemanusiaan lalu menjadi kaku dan terbentuklah suasana yang dalam bahasa jawa “ sopo siro sopo ingsun” yang artinya siapa kamu siapa saya, hubungan ini menimbulkan suasana hubungan kerja yang kurang manusiawi diantara mereka dalam perusahaan itu sendiri. Bisa terjadi pula dengan pihak luar dapat berupa langganan ataupun masyarakat yang tidak berhubungan dengan perusahaan itu. Tidak jarang kita membeli barang yang jelek (susu kotak yang sudah busuk) disebuah koto misalnya, ketika dibuka dan dirasakan/dicicipi dulu sebelum diberikan kepada anak ternyata memang busuk, maka minta untuk ditukar dengan yang baru. Apa yang terjadi justru dipersalahkan mengapa membeli susu yang busuk, tentu saja terjadi ketegangan urat terutama dengan istri terhadap penjaga toko itu, akan tetapi segera disadari bahwa penjaga toko juga bukan pemilik toko, dia hanya menjalankan tugasnya maka lebih baik mengalah saja.
Kasus lain juga sering kita alami bersama dimana kita mendapatkan pelayanan yang kasar dan menjengkelkan dari seorang petugas jaga telepon yang dengan nada membentak menjawab permohonan pihak luar untuk minta disambungkan dengan pesawat tertentu dari perusahaan/kantor tsb, nada suara semacam itu akan terasa tidak etis dan kurang sopan ditelinga, konflik kepentingan juga terjadi antara perusahaan penerbit dengan perusahaan penyalur buku-buku, penyalur sering marah-marah terhadap penerbit yang sering mengganti warna dan bentuk sampul buku yang diterbitkan tanpa memberitahukan hal itu kepada penyalurnya, tentu saja keadaan itu mengakibatkan buku-buku dengan sampul lama menjadi tidak laku yang pada saat itu masih berada dalam stok para penyalur, protes keras lalu dilakukan oleh penyalur kepada penerbit. Sebaliknya penerbit juga sering dirugikan oleh para penyalur karena penyalur tidak menghendaki rencana penerbit untuk melayani sendiri tanpa lewat penyalur pembelian-pembelian dalam jumlah besar dari toko-toko buku yang ingin menjadi grosir. Keadaan tsb menuntut diberlakukannya Manajemen Orientasi Kemanusiaan (Manajemen OK)

Manfaat Penerapan manajemen Orientasi Kemanusiaan
Penerapan Manajemen Orientasi Kemanusiaan (Manajemen OK) akan menimbulkan hubungan yang serasi selaras dan seimbang diantara para petugas atau karyawan dalam perusahaan tsb, maupun antara perusahaan dengan pihak lain diluar perusahaan.
Adapun secara terinci manfaat tsb, dapat berupa
a.       Moral kerja karyawan akan meningkat dan kemudian mendorong semangat kerja sehingga produktifitas kerja pun akan meningkat pula
b.      Partisipasi bawahan akan muncul dan menimbulkan rasa memiliki dari para bawahan sehingga tercipta manajemen partisipatif
c.       Hubungan kerja yang baik dan menyenangkan akan membawa kenyamanan kerja sehingga absensi karyawan akan berkurang
d.      Rasa percaya diri dari para karyawan juga akan terbentuk dan hal ini akan mempertinggi mutu/kuslitsd produksinya
e.       Kepercayaan masyarakat dan konsumen akan meningkat, kepercayaan konsumen akan dicerminkan dalam bentuk “Brand Loyalty” atau istilah lain memperoleh “patronage motive” dari para pembelinya, yaitu citra atau nama baik yang diberikan oleh konsumen kepada produsen

b)     Ekologi dan gerakan pelestarian lingkungan
Kegiatan bisnis seringkali menimbulkan ganguan ekologi, hutan-hutan banyak yang ditebang untuk industri perkayuan, tanah menjadi gundul yang banyak menimbulkan bencana banjir, ular juga banyak diburu untuk industri kulit sehingga tikus menjadi meraja lela yang kemudian mengganggu lahan pertanian, burung-burung juga banyak ditangkapi sehingga ulat serta belalang menjadi kehilangan predatornya lalu berkembang pesat populasinya yang akhirnya mengganggu tanaman pertanian maupun perkebunan yang sulit diberantas, penangkapan ikan sering dilakukan dengan menggunakan racun atau bahkan sengatan listrik, hal ini dimaksudkan agar efektif dan hasil tangkapannya banyak. Dengan cara itu memang ikan yang diperoleh sangat banyak, akan tetapi hasil tersebut hanyalah sementara itu saja, karena seluruh ikan, anak-anak ikan yang masih kecil bahkan telurnya pun ikut terbunuh, dengan demikian hari-hari berikutnya akan tidak dapat panen ikan lagi. Praktik-praktek bisnis semacam ini pada saat ini sudah sangat jauh berkurang berkat adanya penyuluhan serta gerakan pelestarian lingkungan hidup di Indonesia.
Disamping masalah ekologi banyak pula menyangkut masalah polusi. Pabrik sering membuang limbah industrinya yang sangat mengganggu masyarakat sekitarnya, polusi dapat meliputi polisi udara, air, maupun suara.
Penggunaan bungkus plastik nampaknya juga menimbulkan masalah kesuburan tanah karena plastik tidak mudah hancur didalam tanah sehingga dapat menimbulkan gangguan kesuburan tanah

c)      Penghematan energi
Energi yang berasal dari sumber daya alam telah banyak terkuras oleh kegiatan bisnis seperti misalnya batu bara, minyak bumi dan gas, dimana energi macam itu tergolong energi yang tidak dapat direproduksikan lagi. Maka pemikiran penghematan penggunaan energi perlu segera digiatkan, berbagai cara harus dilakukan untuk penghematannya, disamping itu harus diupayakan agar segera diciptakan penggantinya. Misalnya dengan pembangunan energi tenaga surya serta tenaga nuklir yang tidak pernah akan habis. Pemanfaatan energi air, angin serta laut yang perlu ditingkatkan penggunaannya, sebab energi ini merupakan energi yang abadi.

d)     Gerakan Konsumerisme
Dewasa ini muncul gerakan yang berusaha untuk memperjuangkan hak-hak konsumen untuk mendapatkan perlindungan terhadap pelayanan bisnis yang sering merugikan kepentingan, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)

4.      Etika Bisnis
Merupakan penerapan tanggung jawab sosial suatu bisnis yang timbul dari dalam perusahaan itu sendiri, bisnis selalu berhubungan dengan masalah-masalah etis dalam melakukan kegiatannya sehari-hari. Hal ini dapat dipandang sebagai etika pergaulan bisnis, seperti halnya manusia pribadi juga memiliki etika pergaulan antar manusia, maka pergaulan bisnis dengan masyarakat umum juga memiliki etika pergaulan yaitu etika pergaulan bisnis. Meliputi beberapa hal antara lain:
a.       Hubungan antara bisnis dengan langganan/konsumen
Merupakan hubungan yang paling banyak dilakukan, oleh karena itu bisnis haruslah menjaga etika pergaulannya secara baik, adapun pergaulannya dengan pelanggan dapat disebutkan misalnya:
1)      Kemasan yang berbeda-beda membuat konsumen sulit untuk membedakan atau mengadakan perbandingan harga terhadap produknya
2)      Bungkus ataupun kemasan membuat konsumen tidak dapat mengetahui isi didalamnya, sehingga produsen perlu memberikan kejelasan tentang isi serta kandungan atau zat-zat yang terdapat diproduk itu
3)      Promosi terutama iklan merupakan gangguan etis yang paling utama
4)      Pemberian service dan nterutama garansi adalah merupakan tindakan yang sangat etis bagi suatu bisnis. Sangatlah tidak etis suatu bisnis yang menjual produknya yang ternyata jelek (busuk) atau tak layak dipakai tetap saja tidak mau mengganti produknya tsb kepada pembelinya
b.      Hubungan dengan karyawan
Manajer yang pada umumnya selalu berpandangan untuk memajukan bisnisnya seringkali harus berurusan dengan etika pergaulan dengan karyawannya, pergaulan bisnis dengan karyawan ini menyangkut beberapa hal yaitu:
1)      Penerimaan karyawan (rekruitmen), harus dijaga adanya penerimaan yang jujur sesuai dengan hasil seleksi yang telah dijalankan, seringkali terjadi hasil seleksi tidak diperhatikan akan tetapi yang diterima adalah peserta atau calon yang berasal dari anggota keluarga sendiri
2)      Pelatihan (trainning)
3)      Promosi atau kenaikan pangkat, manajer yang mencoba menaikkan pangkat para karyawan dari generasi muda yang dianggapnya potensial dalam rangka membawa organisasi menjadi lebih dinamis, tetapi hal tsb mendapat protes keras dari karyawan dari generasi tua.
4)      Tranfer demosi (penurunan pangkat)
5)      Lay-off atau Pemecatan PHK, ini perlu mendapatkan perhatian ekstra dari para manajer, karena menyangkut masalah tidak saja etik akan tetapi juga masalah kemanusiaan, karyawan yang diPHK akan kehilangan mata pencahariannya yang menjadi tumpuan hidup dia bersama keluarganya
c.       Hubungan antar Bisnis
Hubungan ini merupakan hubungan antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain, bisa terjadi hubungan perusahaan dengan pesaingnya, penyalurnya, grosir, pengecer, agen tunggal maupun distributor. Dalam kegiatan sehari-hari tentang hubungan tersebut sering terjadi benturan-benturan kepentingan antar keduanya, dalam hubungan itu tidak jarang dituntut adanya etika pergaulan bisnis yang baik, contoh penerbit buku yang ingin menyalurkan buku-bukunya kepada para grosir yang bersedia membeli secara kontan dalam jumlah besar dan kontinyu dengan memperoleh potongan rabat yang sama dengan penyalur, rencana ini menjadi kandas kaarena mendapat protes keras dari para penyalur-penyalurnya yang memandang tindakan penerbit tsb akan sangat merugikan para penyalur, sedangkan omzet dari para penyalur sendiri dalam beberapa tahuntidak meningkat, contoh lain adalah adanya perebutan tenaga kerja ahli atau manajer profesional oleh para pengusaha, persaingan harga yang saling menjatuhkan di antara bisnismen dsnya

d.      Hubungan dengan Investor
Perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas dan terutama yang akan atau telah “go public” haruslah menjaga pemberian informasi yang baik dan jujur dari bisnisnya kepada investornya, informasi yang tidak jujur akan menjerumuskan para investor untuk mengambil keputusan investasi yang keliru (perlu mendapat perhatian yang serius). Di Indonesia mengalami lonjakan kegiatan pasar modal, banyak permintaan dari pengusaha yang ingin jadi emiten yang akan menjual sahamnya (meng-emisi sahamnya) kepada masyarakat. Dipihak lain masyarakat sendiri juga sangat berkeinginan untuk menanamkan uangnya dalam bentuk pembelian saham ataupun surat-surat berharga yang lain yang di emisi oleh perusahaan di pasar modal, oleh karena itu masyarakat calon pemodal yang ingin membeli saham haruslah diberi informasi secara lengkap dan benar terhadap prospek perusahaan yang go public tsb, janganlah sampai terjadi adanya manipulasi atau penipuan terhadap informasi. Dalam hal ini peranan pemerintah serta perusahaan penjamin emisi (pialang) adalah sangat penting dalam hal memberikan informasi serta prospektus dari perusahaan yang menjual sahamnya di pasar bursa saham tsb. Tangan Pemerintah Republik Indonesia yang bergerak dalam hal ini BAPEPAM (Badan Pelaksana Pasar Modal) merupakan badan yang berada langsung dibawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Keuangan yang bertugas untuk:
1)      Mengadakan penilaian terhadap perusahaan-perusahaan yang akan menjual sahamnya melalui pasar modal (go public) tugas ini merupakan upaya untuk menilai aapakah perusahaan tsb, telah memenuhi persyaratan yang ditentukan serta layak dan sehat untuk go public
2)      Menyelenggarakan bursa pasar modal secara efektif dan efisien, serta menyusun dan mengumumkan perkembangan kurs efek-efek dipasar bursa
3)      Secara terus-menerus memantau perkembangan perusahaan-perusahaan yang go public
e.       Hubungan dengan Lembaga-lembaga Keuangan
Hubungan dengan lembaga keuangan terutama jawatan pajak pada umumnya merupakan hubungan pergaulan yang bersifat final, hubungan ini merupakan hubungan yang berkaitan dengan penyusunan Laporan Keuangan yang berupa Neraca dan Laporan Rugi dan Laba misalnya, laporan finansial haruslah disusun dengan secara baik dan benar sehingga terjadi kecenderungan kearah penggelapan pajak misalnya. Keadaan tersebut merupakan etika pergaulan bisnis yang tidak baik tentu saja.
Pelaksanaan tanggung jawab sosial suatu bisnis merupakan penerapan dan pelaksanaan kepedulian bisnis terhadap lingkungan, baik lingkungan alam, teknologi, ekonomi, sosial budaya, pemerintah maupun masyarakat internasional. Bisnis yang menerapkan tanggung jawab sosial itu merupakan bisnis yang menjalankan etika bisnis, sedangkan bisnis yang tidak melaksanakan merupakan praktek bisnis yang tidak etis. Penerapan etika bisnis ini merupakan penerapan dari konsep “ Stake-Holder”  sebagai pengganti dari konsep lama yaitu konsep “Stock-Holder”.  Pengusaha yang menerapkan konsep Stock-Holder berusaha untuk mementingkan kepentingan para pemegang saham (Stock-Holder) saja, dimana para pemegang saham tentu saja akan mementingkan kepentingan nya yaitu pengahasilan yang tinggi baginya yang berupa deviden atau pembagian laba serta harga saham di bursa, dengan memperoleh deviden yang tinggi maka penghasilan mereka akan tinggi, sedangkan dengan naiknya kurs saham akan merupakan kenaikan kekayaan yang dimilikinya yaitu sahamnya dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi. Pemenuhan kepentingan atau tuntutan dari para pemegang saham itu sering kali mengabaikan kepentingan-kepentingan pihak lain yang juga terlibat dalam kegiatan bisnis.
Pihak lain yang terkait dalam kegiatan bisnis tidak saja para pemegang saham akan tetapi masih banyak antara lain:  Pekerja/karyawan, Konsumen, Kreditor, Lembaga-lembaga keuangan, Pemerintah
Pengusaha yang menjalankan bisnisnya dengan mengingat atau memperhatikan kepentingan pihak-pihak terkait dalam kegiatan bisnis yang tidak saja hanya mementingkan kepentingan pemegang saham saja merupakan pengusaha yang menerapkan konsep baru yang dikenal sebagai konsep “Stake-Holder

5.      Bentuk-bentuk tanggung jawab sosial suatu bisnis
Bahwa pelaksanaan tanggung jawab sosial suatu bisnis adalah merupakan penjabaran dari kepedulian sosial dari suatu bisnis, dengan semakin tinggi tingkat kepedulian sosial suatu bisnis maka berarti akan semakin meningkat pelaksanaan praktek bisnis dalam masyarakat, banyak kita lihat atau kita alami praktek bisnis yang kurang etis misalnya banyak produk yang sudah tidak layak dijual akan tetapi masih diperjual belikan di toko-toko, makanan yang mengandung zat kimia yang membahayakan kesehatan masyarakat konsumen masih dijual dimana-mana. Bahkan belum lupa dari ingatan suatu perusahaan yang menjual produk yang kita kenal dalam kasus”Biskuit Beracun” disamping itu banyak dilakukan adanya PHK bagi para karyawan tanpa memperoleh uang pesangon yang wajar
Beberapa bentuk pelaksanaan tanggung jawab sosial suatu bisnis yang dapat atau telah dilakukan oleh beberapa pengusaha khusus di Indonesia
  1. Pelaksanaan Hubungan Industrial Pancasila (HIP)
Banyak pengusaha yang telah menyusun dan melaksanakan hubungan industrial Pancasila ini dalam bentuk yang sering dikenal sebagai Kesepakatan Kerja Bersama (KKB), kewajiban karyawan tentu sudah jelas dan hak-hak karyawan meliputi hak atas gaji, kesejahteraan baik moril maupun materiil, misalnya hak cuti hamil, rekreasi, premi kerja lembur, bonus, tunjangan THR, pakaian kerja, tunjungan kesehatan serta hak untuk mengembangkan bakat serta kehidupan agama dan kerohaniannya
  1. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)
Banyak Pengusaha yang telah melakukan amdal dalam melaksanakan bisnisnya, wujud nyata dari amdal tercermin dalam pelaksanaan pengolahan limbah industri, sehingga limbah menjadi tidak mengganggu lingkungan. Dalam hal ini masih banyak pula pengusaha yang belum menyadari akan tanggung jawabnya terhadap pengolahan limbah industrinya
  1. Penerapan prinsip Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Penerapan prinsip K3 telah banyak dilaksanakan pula pengusaha, guna menjalankan praktek K3 tentu memerlukan pekerjaannya baik berupa topi pengaman, masker maupun pakaian kerja khusus dsbnya
  1. Perkebunan Inti Rakyat (PIR)
Pelaksanaan program pemerintah yang berupa PIR dimana perkebunan besar yang biasanya adalah milik negara merupakan intinya yang akan menjadi motor penggerak pembangunan perkebunan rakyat disekitarnya yang merupakan plasma, perkebunan rakyat akan mendukung kelancaran pemasokkan bahan baku
  1. System Bapak Angkat- Anak Angkat
Pelaksanaan sistem ini juga banyak membantu kelancaran proses pembangunan bangsa serta keterkaitan industri maupun keterkaitan kepentingan masyarakat banyak. Praktek ini tidak mudah untuk dilaksanakan karena diperlukan kesadaran yang tinggi dari pengusaha besar yang harus bersedia untuk membantu perkembangan bagi pengusaha kecil yang seringkali banyak menimbulkan persoalan bagi pengusaha besar yang menjadi bapak angkat.




DAFTAR PUSTAKA

Indriyo Gitosudarmo, Drs, M.Com, Hons      Pengantar Bisnis, Edisi kedua BPFE Yogyakarta -1996
Murti Sumarni, Dra dan John Soeprihanto, Drs, MIM           Pengantar Bisnis, Dasar-dasar Ekonomi Perusahaan,  Liberty Yogyakarta -1987



Pengantar Bisnis 5 BISNIS INTERNASIONAL

PENGANTAR BISNIS
S.T.I.E  MUHAMMADIYAH PEKALONGAN

OLEH:  R. IRAWAN SUPRIYATNO, S.E, M.Si


BAB -V

BISNIS INTERNASIONAL






Pendahuluan

Bab ini akan menjelaskan Bisnis Internasional Dengan menyelesaikan bab ini mahasiswa diharapkan dapat memahami bagaimana dan mengapa perlu dilakukan bisnis antar negara serta apa yang dapat mendorong dan hambatan dalam bisnis internasional yang harus dilakukan

Pengertian bisnis internasional merupakan kegiatan bisnis yang dilakukan antar negara yang satu dengan negara yang lain.

1.      Hakekat Bisnis Internasional
Bisnis internasional merupakan kegiatan bisnis yang dilakukan melewati batas-batas suatu negara. Adapun transaksi bisnis yang dilakukan oleh suatu negara dengan negara lain sering disebut sebagai Perdagangan Internasional (International Trade)  apabila transaksi bisnis itu dilakukan oleh suatu perusahaan dalam suatu negara dengan perusahaan lain atau orang/individu di negara lain disebut Pemasaran Internasional (International Marketing), biasa diartikana sebagai Bisnis Internasional, meskipun pada hakekatnya ada dua pengertian. Bisnis Internasional :
a.       Perdagangan Internasional (International Trade)
b.      Pemasaran Internasional (International Marketing)

Perdagangan Internasional (International Trade)
Merupakan transaksi antar negara itu biasanya dilakukan dengan cara tradisional yaitu dengan cara ekspor dan impor. Besar kecilnya aliran uang kas masuk dan keluar antar negara tersebut sering disebut sebagai “neraca Pembayaran” atau “Balance Of Payments”, neraca pembayaran yang mengalami surplus sering juga dikatakan bahwa negara ini mengalami Pertambahan Devisa Negara. Sebaliknya apabila mengalami Devisit neraca pembayarannya dan akan menghadapi Pengurangan devisa negara

Pemasaran Internasional (International Marketing)
Sering juga disebut sebagai bisnis internasional (international business) merupakan keadaan dimana suatu perusahaan dapat terlibat dalam suatu transaksi bisnis dengan negara lain, perusahaan lain ataupun masyarakat umum diluar negeri. Transaksi bisnis internasional dapat ditempuh dengan berbagai cara antara lain:
-          Licencing
-          Franchising
-          Management Contracting
-          Marketing in Home Country by Host Country
-          Joint Venturing
-          Multinational Corporation (MNC)
Semua bentuk transaksi bisnis internasional tersebut akan memerlukan transaksi pembayaran yang sering disebut sebagai Fee. Negara penerima atau Home Country harus membayar, sedangkan negara pengirim atau Host Country akan memperoleh pembayaran Fee tsb.
Pengertian Perdagangan Internasional dengan Pemasaran Internasional sering dianggap sama saja, ternyata berbeda, perbedaan utama terletak pada pelakunya dimana Perdagangan Internasional dilakukan oleh negara sedangkan Pemasaran Internasional adalah merupakan kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan. Disamping itu Pemasaran Internasional menuntut kegiatan bisnis yang lebih aktif serta lebih progresif dari pada Perdagangan Internasional, adapun perbedaan dari kedua pengertian tsb, secara rinci :

Perbedaan Perdagangan Internasional VS Pemasaran Internasional
Faktor Penentu
Perdagangan Internasional
Pemasaran Internasional
1.      Pelaku
2.      Barangnya pindah kenegara lain
3.      Kekuatan
4.      Sumber informasi

5.      Kegiatan bisnis
-          Jual beli
-          Distribusi fisik
-          Penentuan harga
-          Research Pasar
-          Pengembangan Produk
-          Promosi
-          Manajemen distribusi
-           
Negara
Ya

Keunggulan Kompetatif
Neraca pembayaran Internasional

Ya
Ya
Ya
Umumnya tidak
Umumnya tidak
Umumnya tidak
Umumnya tidak
Perusahaan
Ya / tidak

Keunggulan persaingan
Data perusahaan


Ya
Ya / tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya

2.      Alasan melaksanakan Bisnis Internasional
Suatu negara ataupun perusahaan melakukan transaksi bisnis internasional baik dalam bentuk Perdagangan Internasional atau bisnis Internasional pada umumnya memiliki beberapa pertimbangan atau alasan. Pertimbangan tsb meliputi pertimbangan ekonomis, politis, sosial budaya bahkan pertimbangan militer. Beberapa alasan untuk melaksanakan bisnis Internasional antara lain
a.       Spesialisasi antar bangsa-bangsa
b.      Pertimabangan pengembangan bisnis

3.      Tahapan dalam Memasuki Bisnis Internasional
Memasuki bisnis internasional pada umumnya terlibat diri secara bertahap dari yang paling sederhana yang tidak mengandung resiko sampai yang kompleks dan mengandung resiko bisnis yang sangat tinggi. Adapun tahap tsb secara kronologis adalah :
a.       Ekspor Insidentil, dalam tahap awal ini pada umumnya terjadi pada saat kedatangan orang asing dinegeri kita kemudian dia membeli barang-barang dan kita harus mengirimkannya kenegeri asing itu.
b.      Ekspor aktif, tahapan terdahulu kemudian dapat berkembang terus dan kemudian terjalinlah hubungan bisnis yang rutin dan kontinyu dan bahkan transaksi tsb makin lama akan semakin aktif, dengan semakin berkembangnya jumlah maupun jenis komoditi perdagangan internasional tsb.dalam tahap aktif ini perusahaan mulai aktif untuk melaksanakan manajemen atas transaksi iitu. Dalam tahap ini sering disebut tahap “ekspor aktif “ sedang tahap pertama disebut tahap pembelian “purchasing”
c.       Penjualan Lisensi, dalam tahap ini negara pendatang menjual lisensi atau merek dari produknya kepada negara penerima, yang dijual hanya merek atau lisensinya saja, sehingga negara penerima dapat melakukan manajemen yang cukup luas terhadap pemasaran maupun proses produksinya termasuk bahan baku serta peralatannya, pemakaian lisensi perusahaan dari negara penerima harus bayar fee kepada
d.      Franchising, merupakan tahap yang lebih aktif lagi yaitu perusahaan disuatu negara menjual tidak hanya lisensi atau merek dagangannya saja akan tetapi lengkap dengan segala atributnya termasuk peralatan, proses produksi, resep-resep, campuran produksinya, pengendalian mutunya, pengawasan mutu bahan baku maupun barang jadinya, serta bentuk pelayanannya. Perusahaan yang menerima disebut” Franchisee”, sedang perusahaan pemberi disebut “ Franchisor”. Bentuk ini pada umumnya berhasil bagi jenis usaha tertentu misalnya makanan, restoran, supermarket, fitness centre dsbnya. Beberapa contoh kongkrit dari bentuk ini adalah KFC, Mc.Donalds, CFC dsbnya. Sebagai contoh di Indonesia adalah Es Teller 77, ayam goreng mbok berek ny. Suharti, Hero supermarket dll
e.       Pemasaran di luar negeri, bentuk ini memerlukan intensitas manajemen serta keterlibatan yang lebih tinggi karena perusahaan pendatang (Host country) haruslah betul-betul secara aktif dan mandiri untuk melakukan manajemen pemasaran bagi produknya dinegeri asing (Home Country)
f.       Produksi dan pemasaran diluar negeri, tahap terakhir adalah tahap yang paling intensif dalam melibatkan diri pada bisnis internasional yaitu tahap “produksi dan pemasaran di luar negeri” juga disebut”Total International Business” bentuk inilah yang menimbulkan Multy National Corporation (MNC) yaitu perusahaan Multi nasional

4.      Hambatan dalam memasuki Bisnis Internasional
Melaksanakan bisnis internasional tentu saja akan lebih banyak memiliki hambatan katimbang dipasar domestik. Terdapat beberapa hambatan dalam bisnis internasional yaitu :
a.       Batasan perdagangan dan tarif bea masuk, hambatan utamanya akan berupa perdagangan serta sering terjadinya pembatasan-pembatasan tarif bea masuk, hambatan perdagangan antara lain berupa pemilihan partner dagang, dipilih atas dasar pertimbangan baik ekonomis maupun non ekonomis. Misalnya saja hanya dari negara-negara serumpun atau menjadi kelompok ekonomi tertentu seperti MEE (Masyarakat Ekonomi Eropa atau Europian Economic Community), ASEAN (Association of South East Asia Nations ), AFTA (Asean Free Trade Area), NAFTA (North American Free Trade Agreement), CACM (Central American Common Market), EAC (East African Community), EEC (Europian Economic Community), EFTA (europian Free Trade Area), LAFTA (Latin American Free Trade Association)
b.      Perbedaan bahasa, sosial budaya/kultural, bahasa seringkali merupakan hambatan bagi kelancaran bisnis internasional, bahasa alat komunikasi yang vital baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Tanpa komunikasi yang baik maka hubungan bisnis sukar untuk dapat berlangsung dengan lancar. Contoh pabrik mobil chevrolet’s Nova, di spanyol kata “nova” berarti tidak dapat berjalan, maka sangat sulit untuk memasarkan produk di spanyol. Misalnya pemberian warna terhadap suatu produk ataupun bungkusnya. Perbedaan budaya atau kebiasaan juga perlu diperhatikan, misal orang jepang memiliki kebiasaan untuk tidak mau mendekati wanita bila membeli di supermarket, maka alat-alat kosmetik pria jangan ditempatkan berdekatan dengan kosmetik wanita, sebab tidak akan didekati oleh pembeli pria.
c.       Hambatan politik dan hukum/perundang-undangan, hubungan politik yang kurang baik antara satu negara dengan negara yang lain juga akan mengakibatkan terbatasnya hubungan bisnis dari kedua negara tsb. contoh yang ekstrim Amerika melakukan embargo terhadap komoditi perdagangan dengan negara-negara komunis. Ketentuan hukum/UU yang berlaku juga membatasi berlangsungnya bisnis, misal negara-negara arab melarang barang-barang mengandung daging maupun minyak babi, misal Indonesia melarang ekspor kulit mentah ataupun setengah jadi, rotan mentah dan setengah jadi dsbnya
d.      Hambatan operasional, yakni transportasi atau pengangkutan barang yang diperdagangkan. Transportasi ini seringkali sukar untuk dilakukan karena antara kedua negara itu belum memiliki jalur pelayaran kapal laut yang reguler, mengakibatkan biaya ekspedisi menjadi sangat mahal

5.      Perusahaan Multinasional
Pada hakekatnya adalah suatu perusahaan yang melaksanakan kegiatannya secara internasional atau melakukan operasinya di beberapa negara. Juga menimbulkan kecenderungan yang mengglobal dari masyarakat dunia, kecenderungan ini berupa menyeragamnya kebutuhan dan selera masyarakat dunia terhadap berbagai kebutuhan, kehidupan sehari-hari menjadi lebih bersifat sama, kebutuhan masyarakat didunia mendekati hal yang sama, kebutuhan barang-barang konsumsi atau kehidupan sehari-hari, contoh kebutuhan akan sabun mandi, sabun cuci, alat-alat tulis, alat-alat kantor, pakaian, juga perabot rumah tangga dsbnya. Kecenderungan untuk adanya kesamaan inilah yang mendorong perusahaan untuk beroperasi secara internasional. Perusahaan yang demikian akan mencoba untuk mencari tempat pabrik guna memproduksikan barang-barang tsb yang paling murah, contoh perusahaan multi nasional, coca cola, Colgate, johnson, IBM, General Electric, Mitzubishi Electric, Toyota , Philips dari negeri Belanda, Nestle, unilever, bayer dari jerman, ciba dsbnya




DAFTAR PUSTAKA

Indriyo Gitosudarmo, Drs, M.Com, Hons      Pengantar Bisnis, Edisi kedua BPFE Yogyakarta -1996
Murti Sumarni, Dra dan John Soeprihanto, Drs, MIM           Pengantar Bisnis, Dasar-dasar Ekonomi Perusahaan,  Liberty Yogyakarta -1987



Pengantar Bisnis 4 FUNGSI MANAJEMEN

PENGANTAR BISNIS
S.T.I.E  MUHAMMADIYAH PEKALONGAN

OLEH:  R. IRAWAN SUPRIYATNO, S.E, M.Si


BAB -IV

FUNGSI MANAJEMEN






Pendahuluan

Bab ini akan menjelaskan fungsi manajemen Dengan menyelesaikan bab ini mahasiswa diharapkan dapat memahami fungsi manajemen, ketrampilan manajer yang dibutuhkan dan bagaimana menjadi manajer yang profesionalisme yang harus dilakukan


1.      Peranan dan Arti Manajemen
Pada dasarnya semua manusia adalah manajer, karena dalam kehidupannya sehari-hari setiap manusia selalu melakukan manajemen bagi dirinya sendiri ataupun keluarganya untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta merealisasikan tujuan-tujuan yang diinginkan (self management). Mahasiswa juga setiap hari selalu melakukan manajemen karena memiliki tujuan belajar, akan selalu melakukan persiapan belajar, mengatur waktu, menata ruang,tempat serta peralatan belajarnya. Dengan kata lain mahasiswa akan melakukan pengaturan dan perencanaan terhadap sumber daya yang dimilikinya untuk meraih tujuan belajranya secara efektif dan efisien.
Efektivitas belajar diukur atau ditunjukkan dari tingginya indeks prestasi, sedangkan efisiensinya dapat dilihat dari banyaknya atau lama waktu studinya maupun dana yang telah dikeluarkannya.

2.      Fungsi dan Proses Manajemen
Fungsi-fungsi Manajemen
Manajemen sering pula dipandang sebagai sebuah proses untuk merencanakan, mengkoordinasikan, melaksanakan dan mengawasi kegiatan dalam rangka usaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pengertian ini merupakan pelaksanaan dari fungsi-fungsi yang ada didalam pengertian manajemen. Dalam rangka upaya untuk meraih tujuannya manajer haarus melaksanakan berbagai fungsi antara lain perencanaan, koordinasi, pengorganisasian, pengawasan dsbnya.
Fungsi-fungsi yang terkandung dalam manajemen sbb: 1. Perencanaan;  2. Pengorganisasian;  3 Koordinasi;   4. Pengarahan (directing)  5. Motivasi;  6. Komunikasi;  7. Kepemimpinan;  8. Penanggungan risiko;  9. Pengambilan Keputusan (Desicion making);  10. Pengawasan atau pengendalian dsbnya

3.      Keterampilan Manajemen yang Dibutuhkan
Secara garis besar terdapat tiga tingkatan dalam suatu organisasi baik organisasi itu kecil, menengah dan terutama organisasi yang sudah besar. Ketiga tingkatan itu adalah manajemen tingkat atas (top manajer), Middle Manajemen dan Lower Manajemen
Seorang manajer yang pada saat ini menduduki jabatan sebagai Lower Manajemen akan selalu berusaha agar secepatnya dapat naik kejenjang manajerialnya yang lebih tinggi, agar keberhasilan itu dapat diraihnya maka haruslah mengetahui bekal yang diperlukan dalam masing-masing tingkatan majerial. Dalam hal ini manajer harus memiliki tiga macam ketrampilan yaitu ketrampilan konseptual, kemanusiaan, teknis
Ketrampilan konseptual, ketrampilan untuk membuat konsep, ide, gagasan demi kemajuan organisasi (conseptual skill) kemudian harus dijabarkan menjadi rencana kegiatan/kerja yang kongkret biasanya disebut sebagai proses perencanaan.
Suatu rencana kerja biasanya dibedakan menjadi rencana jangka panjang dan jangka pendek, sangat tergantung dari ide atau gagasan yang dicetuskannya, ada gagasan yang tinggi, besar dan kompleks, ada pula yang sederhana. Makin sederhana gagasan yang ingin direalisasikannya itu akan semakin pendek jangka waktu yang diperlukan untuk mewujudkan ide tsb, sebaliknya semakin besar gagasan yang ingin diciptakan maka semakin panjang waktu yang dibutuhkan. (pembahasan di bab fungsi perencanaan).
Perlu diingat bahwa setiap pelaksanaan manajemen akan selalu berhubungan dengan individu yang lainnya, stiap individu atau manusia baik pada level jabatan manajemen top, middle, lower selalu mempunyai unsur hakiki manusia yaitu cipta, rasa dan karsa sendiri-sendiri, yang merupakan motor penggerak untuk selalu terciptanya gagasan-gagasan baru.
Cipta merupakan unsur pengolahan pikir seorang manusia, proses pembinaan yang berada pada tingkat kognitif, rasa merupakan rasa hati perasaan seorang sering pula menjadi motor penggerak bagi seseorang untuk menciptakan suatu atau merencanakan untuk melakukan kegiatan tertentu, proses pembentukan rasa ini merupakan tahap pembinaan yang kedua yang berada pada ranaht efektif yaitu perasaan.
Unsur yang ketiga dalam pribadi manusia adalah karsa, yang merupakan unsur perilaku perbuatan manusia tsb, perilaku perbuatan itu merupakan perwujudan dari perasaan yang telah timbul sebagai akibat dari faktor lain, misal suasana yang mengancam bisa membuat manusia itu melakukan perbuatan yang sebenarnya tidak seperti yang dikehendaki oleh hati nuraninya. Proses terbentuknya perilaku ini merupakan tahap atau ranah yang ketiga yaitu ranah psikomotorik atau sering pula disebut konatif.
Ketrampilan konsepsional sangat diperlukan bagi manajer pada tingkat-tingkat yang tinggi, semakin tinggi tingkatan manajerial seseorang harus semakin membekali dirinya dengan ketrampilan konsepsional,
Contoh pembaharuan : produk pasta gigi selalu membuat campuran atau adonan baru bagi produknya, pabrik-pabrik mobil tiap tahun selalu memperbaharui bentuk model produknya, komputer hampir setiap tahun keluar inovasi baru bagi produk dsbnya.

Ketrampilan kemanusiaan atau komunikasi
Selain kemampuan konsepsional manajer juga perlu dibekali dengan ketrampilan yang lain yaitu kemampuan atau ketrampilan berkomunikasi yang komunikatif dengan individu/manusia lainnya, hal ini disebut ketrampilan untuk berhubungan dengan orang lain atau ketrampilan kemanusiaan (Human skill), para manajer sering melupakan atau mengabaikan ketrampilan ini, terutama manajer yang baru saja promosi jabatan/pangkatnya, sering kali memperlakukan anak buahnya secara kurang senonoh atau merendahkan anak buahnya yang dulunya adalah teman kerjanya.
Biasanya seseorang seperti itu menjadi lupa diri dan bertingkah gila hormat, apabila terjadi maka komunikasi akan terputus dan informasi yang penting menjadi ketinggalan berakibat negatif bagi organisasi yang dipimpinnya.
Komunikasi yang persuatif adalah suatu jawaban yang baik yang harus selalu diciptakan oleh pimpinan atau manajer terhadap bawahan yang dipimpinnya, dengan komunikasi persuatif, bersabat dan kebapakan akan membuaat anak buah menjadi merasa dihargai dan kemudahan mereka akan bersikap terbuka kepada atasan, disamping itu keterbukaan akan memungkinkan seseorang berpikir jernih sehingga dapat memacu proses terbentuknya cipta, rasa dan karsa bagi seseorang

Ketrampilan teknis
Ketrampilan yang terakhir yang merupakan bekal bagi seorang manajer adalah ketrampilan teknis (tecnical skill), keterampilan ini pada umumnya merupakan bekal bagi manajer pada tingkat yang lebih rendah. Adapun keterampilan teknis ini merupakan kemampuan untuk menjalankan suatu pekerjaan tertentu misal memperbaiki mesin, membuat kursi, merangkai bunga dan ketrampilan teknis yang lain. Ketrampilan ini sangat diperlukan bagi manajer pada tingkat rendah. Semakin rendah tingkatan manajerial seseorang maka akan semakin besar tuntutan bekal keterampilan teknis yang harus dikuasai olehnya, hal ini adalah wajar karena pada tingkatan yang lebih rendah tentu saja mereka harus lebih bersifat sebagai pelaksana teknis yang harus menguasai unsur-unsur teknis.

4.      Ciri-ciri Manajer Profesional
Manajer yang profesional adalah manajer yang mampu untuk menciptakan atau membuat kedua belah pihak menjadi senang, bahagia serta bangga. Kesenangan, kebahagiaan dan kebanggaan haruslah diciptakan terhadap kedua belah pihak, baik pihak yang dilayani maupun pihak yang melayanai yaitu manajer itu sendiri. Pihak yang dilayani adalah konsumen atau masyarakat yang menggunakan produk yang ditawarkan kepada mereka. Sedangkan pihak yang melayani kebutuhan masyarakat terhadap suatu produk yang ditawarkannya itu, apabila kedua belah pihak tsb merasa senang, bahagia serta bangga maka disitulah letak profesionalisme dari seorang manajer dalam menjalankan tugasnya. Ketiga unsure tsb merupakan cirri atau sifat utama dari seorang manajer yang professional yaitu apabila dapat menciptakan suasana SBB yaitu :
    1. Senang (Puas)
    2. Bahagia
    3. Bangga
Sebaliknya manajer yang tidak professional akan menciptakan suasana yang justru bertentangan dengan ketiga suasana tsb diatas didalam menjalankan tugas manajerialnya. Banyak kita jumpaidalam praktik sehari-hari bahwa manajer justru menciptakan suasana yang bukannya membuat kita semua senang akan tetapi justru membuat kita semua kecewa. Sebagai contoh misalnya kita membeli sebuah alat listrik yang baaru dipakai beberapa saat sudah rusak, maka kita akan segera dikecewakan karenanya. Suasana yang lain yang juga sering kita alami bersama yang menunjukkan ketidak professionalan dari manajernya dalah kebalikan dari suasana bahagia akan tetapi justru suasana menderita yang ditimbulkan karena kita menggunakan produk yang kita beli atau kita pakai. Sebagai contoh kalau kita naik sebuah bis kota misalnya, disana kita harus berdesak-desakkan sehingga dalam perjalanan kita akan menderita dan bahkan tidak jarang tempat duduknyapun tidak nyaman untuk diduduki. Lebih lagi banyak pula kita jumpai bahwa kita semua dalam menggunakan produk yang kita beli itu kita justru merasa malu dan bukannya bangga. Tidak jarang kita membeli sebuah pakaiaan yang setelah dipakai beberapa saat sudah luntur yang membuat kita menjadi malu untuk memakainya lagi. Oleh karena itu dapat kita tunjukkan cirri-ciri manajer yang tidak professional adalah yang akan menciptakan suasana di kedua belah pihak baik pihak yang melayani maupun yang dilayani merasakan suasana yang mengecewakan, menyedihkan atau menderita dan memalukan. Kedua cirri tsb dapat ditunjukkan dalam table sbb.:

Professional
Tidak professional
  1. Memuaskan
  2. Membahagiakan
  3. Membanggakan
Mengecewakan
Menyedihkan
Memalukan
  1. Professionalisme yang dirasakan oleh konsumen
Konsumen harus merasa senang karena mereka memperoleh barang atau jasa yang berkualitas baik, dengan harga yang terjangkau. Dengan menyajikan produk yang berkualitas bagus dengan harga yang terjangkau itu maka konsumen akan merasa senang. Sebaliknya apabila produk yang kita tawarkan tsb berkualitas jelek, maka konsumen akan segera merasa sedih dan benci terhadap produk kita atau terhadap perusahaan kita, apabila ternyata produk kita itu baru dipergunakan sebentar saja sudah rusak.
Konsumen dapat merasa bahagia karena mereka merasa dapat menikmati kehidupan yang lebih nyaman karena memiliki atau menikmati produk yang memang dibutuhkannya dan diharapkannya. Dengan dimilikinya produk tsb maka konsumen akan merasa bahwa kehidupan keluarganya menjadi lebih bahagia, sebaliknya jangan sampai kita atau manajer membuat konsumen menjadi kecewa atau jengkel dengan pelayanan kita ataupun dengan produk kita. Banyak contoh dimasyarakat kita yang sering memperoleh pelayanan yang sangat mengecewakan atau menjengkelkan. Misalnya saja sering terjadinya paksaan untuk membeli suatu produk, baik itu berupa kaartu undangan sebuah show yang terpaksa atau dipaksa untuk membeli meskipun masyarakat atau konsumen itu tidak menyukainya. Begitu pula para pedagang kecil asongan yang sering membuat konsumen menjadi risi karena pelayanan yang berlebihan dengan mengacung-acungkan barangnya ke depan muka konsumennya, sambil menyentuh-nentuh badan calon konsumennya. Pelayanan seperti itu akan tidak membuat calon konsumen menjadi bahagia karenanya.
Konsumen juga harus dibuat tidak saja senang dan bahagia akan tetapi harus pula dibuat menjadi bangga dengan produk yang dimilikinya itu. Konsumen harus dibuat bangga apabila mereka itu menggunakan barang atau jasa yang kita tawarkan itu membuat konsumennya merasa direndahkan martabatnya atau harga dirinya, sehngga mereka justru merasa malu apabila dilihat oleh orang lain bahwa dia menggunakan produk kita itu, produk kita harus membuat konsumen merasa akan memperoleh penghargaan atau harga diri yang lebih tinggi dari masyarakat luas. Kebanggaan konsumen pada umumnya akan dapat terjadi apabila perusahaan kita menyajikan produk yang memiliki dua keuanggulan yang biasanya disebut :
1). Hi-Tech (High Technology)
2). Hi-Touch (High Touch)
Hi-Tech berarti menggunakan teknologi canggih, sedangkan Hi-Touch berarti memberikan sentuhan tinggi. Sentuhan tinggi dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk misalnya dengan memberikan nilai seni atau aestetika yang tinggi atau memberikan pelayanan yang mampu menyentuh hati nurani manusia yang paling dalam, sehingga mereka akan merasa bangga akan apa yang diperbuatnya karena mereka merasa dapat melakukan perbuatan yang sangat manusiawi

  1. Professionalisme yang dirasakan oleh Manajer dan Karyawan
Manajer atau pengusaha dan karyawan harus menjadi senang karena mereka memperoleh keuntungan terutama keuntungan yang bersifat finansial dari transaksi bisnis yang terjadi. Jangan sampai terjadi bahwa konsumen menjadi senang akan tetapi ternyata transaksi tsb mendatangkan kerugian finansial bagi perusahaan yang dipimpinnya itu. Hal ini tentu saja akan membuat pengusaha atau pemilik perusahaan atau pemegang saham akan merasa sedih karenanya.
Kebahagian para manajer dan karyawan akan muncul karena merasa bahwa mereka semua didalam menjalankan tugasnya itu telah dapat membantu orang lain yaitu konsumen atau masyarakat luas menjadi senang dan bahagia. Apabila kita dapat melakukan perbuatan yang membahagiakan orang lain tentu saja kita akan juga merasa bahagia dan bangga. Sebaliknya apabia orang lain yang kita layani itu ternyata merasa kecewa atau bahkan merasa menderita, maka kita juga akan merasa kecewa pula karenannya.
Kondisi tempat kerja yang bagus, bersih, indah dan nyaman akan membuat para karyawan dan manajer ataupun pemilik perusahaan akan merasa bangga terhadap pekerjaannya serta perusahaan akan merasa bangga terhadap pekerjaannya serta perusahaan dimana mereka bekerja. Sebaliknya tempat kerja yang jelek, kumuh, dan semrawut akan membuat manusia yang berada ditempat itu bahkan manusia yang memandangnyapun akan merasa jijik dan memalukan



DAFTAR PUSTAKA

Indriyo Gitosudarmo, Drs, M.Com, Hons      Pengantar Bisnis, Edisi kedua BPFE Yogyakarta -1996
Murti Sumarni, Dra dan John Soeprihanto, Drs, MIM           Pengantar Bisnis, Dasar-dasar Ekonomi Perusahaan,  Liberty Yogyakarta -1987



Pengantar Bisnis 3 FUNGSI PEMASARAN

PENGANTAR BISNIS
S.T.I.E  MUHAMMADIYAH PEKALONGAN

OLEH:  R. IRAWAN SUPRIYATNO, S.E, M.Si


BAB -III

FUNGSI PEMASARAN






Pendahuluan

Bab ini akan menjelaskan Fungsi Pemasaran, Marketing Mix Dengan menyelesaikan bab ini mahasiswa diharapkan dapat memahami fungsi pemasaran, dan juga mampu menganalisa peluang pasar yang harus dilakukan


1.      Difinisi Pemasaran
Pemasaran (marketing) adalah sekelompok aktivitas yang didesain saling terkait untuk mengidentifikasikan keinginan pelanggan dan mengembangkan, mempromosikan dan menentukan harga barang atau jasa untuk memuaskan kebutuhan pelanggan pada tingkat perolehan laba tertentu.
Pemasaran mengandung pengertian “kesuksesan organisasi” dalam jangka panjang. Artinya, perusahaan tidak hanya disibukkan dengan untung/rugi dalam menjual barang atau jasa saja tetapi juga memikirkan bagaimana organisasi dapat hidup dan berkembang

2.      Fungsi Pemasaran

Pasar merupakan sumber daya organisasi pertama dan utama apabila pendekatan bisnis berdasar orientasi kepada konsumen. Dengan demikian sangat beralasan apabila dalam suatu organisasi bisnis seringkali ditemukan adanya salah satu fungsi yang membidangi masalah pasar yang sering dikenal dengan fungsi pemasaran. Fungsi pemasaran sering disebut sebagai ujung tombok suatu bisnis, sehingga kebijakan bisnis banyak diawali dari suatu aktivitas analisis pemasaran

Pemasaran strategis mengacu pada faktor strategis memilih tindakan yang benar (choose the right thing) sedangkan strategi pemasaran mengacu pada faktor operasional atau pelaksanaan dengan benar dari tindakan yang telah dipilih do the thing right

Orientasi dan analisis pasar diperlukan agar pelaku bisnis mampu mengenali pasarnya dengan baik agar dapat memenuhi melayani dan menguasainya. Salah satu kegunaan analisis pasar adalah untuk mengidentifikasi potensi dan kesempatan pasar sehingga dapat ditentukan sasaran pasar (target market). Untuk mendapatkan gambaran mengenai kesempatan pasar secara skematik sederhana dimodelkan dalam matriks produk-pasar (product-market matrix)

Menganalisa Peluang Pasar

Banyak perusahaan menetapkan kebijakan bahwa, yang penting adalah mengidentifikasi peluang pasar terlebih dahulu. Tetapi dilain pihak terdapat pula perusahaan yang mempunyai pendapat bahwa, yang utama adalah menetapkan tujuan (objective) perusahaan terlebih dulu baru mencari peluang pasar. Didalam mengidentifikasi peluang pasar, maka perlu dilihat beberapa kesempatan pengembangan:
a.       Pengembangan Intensif, sesuai dilaksanakan oleh perusahaan yang belum mengenali sepenuhnya kesempatan yang terdapat pada produk dan pasarnya yang sekarang, gambarannya :


Produk Sekarang
Produk Baru
Pasar Sekarang
1.Penetrasi Pasar
3. Pengembangan Produk
Pasar Baru
2.Pengembangan Pasar
4.Diversifikasi Produk

1)       Penetrasi Pasar, merupakan usaha peningkatan penjualan produk sekarang dipasar yang sekarang melalui usaha pemasaran yang agresif, misal dengan cara memberikan potongan harga, kupon berhadiah, pembagian sampel produk secara Cuma-Cuma atau dengan cara peningkatan program promosi untuk merebut langganan
2)      Pengembangan Pasar, cara ini ditempuh perusahaan untuk meningkatkan penjualan dengan jalan mencari daerah pemasaran yang baru, misal dengan memasuki segmen pasar yang lain melalui usaha pengembangan versi produk yang sesuai dengan kebutuhan dari segmen tsb
3)      Pengembangan Produk, yaitu usaha peningkatan penjualan dengan cara mengembangkan produk dengan lebih baik untuk pasar yang dikuasai sekarang. Misal dengan membuat atau menambah produk dalam kualitas, model ukuran yang berbeda-beda untuk pasar yang telah dikuasai
4)      Diversifikasi Produk, disini usaha peningkatan penjualan dijalankan dengan cara membuat berbagai jenis produk untuk dikembangkan kedalam pasar yang baru, misal membuat jenis produk yang berbeda baik dalam hal fungsi pemakaian harga maupun ukuran untuk pasar yang baru

b.      Pengembangan Integratif, jenis pengembangan ini dapat digunakan untuk perusahaan yang industri dasarnya mempunyai masa depan yang cerah dan atau dapat menaikkan profitabilitas, efisiensi atau pengawasannya dengan cara bergerak ke muka, ke belakang maupun horisontal didalam industri

c.       Pengembangan Diversifikasi, ini baik untuk dilaksanakan jika sistem pemasaran inti tidak banyak menunjukkan tambahan kesempatan untuk pertumbuhan, juga kesempatan diluar sistem pemasaran inti adalah lebih baik
·         Diversifikasi Konsentris, yaitu usaha untuk menambah produk baru yang mempunyai energi teknologis dengan jajaran produk yang ada
·         Diversifikasi Horisontal, adalah usaha untuk menambah produk baaru yang dapat menarik langganan, meskipun produk itu tidak mempunyai hubungan dengan jajaran produk yang ada
·         Diversifikasi Konglomerat, merupakan usaha untuk menambah produk baru yang akan dijual untuk golongan pembeli baru dengan maksud untuk menjaga stabilitas penjualan. Produk baru ini tidak mempunyai hubungan dengan jajaran produk yang ada, baik teknologis maupun pasarnya.

3.      Komponen-komponen Marketing Mix

Strategi pemasaran, dilakukan melalui Bauran Pemasaran (marketing Mix) atau sering dikenal dengan strategi “ 4P” yakni :

Ø  PRODUCT (produk), strategi produk ditetapkan melalui pemahaman mengenai :
o   Konsep produk (pengertian atau pandangan konsumen terhadap suatu produk yang dibutuhkan dan diinginkan ditinjau dari arti atau aspek teknis dan aspek nonteknis atau sosial budaya)
o   Siklus kehidupan produk (product life cycle, yang mencerminkan hubungan antara variabel penjualan dengan variabel waktu. Siklus ini terbagi kedalam empat tahapan yaitu : tahap perkenalan, tahap pertumbuhan, tahap kedewasaan, dan tahap kemunduran)
Fokus dalam maarketing Mix :
Tahap perkenalan ------------> promosi
Tahap pertumbuhan ---------> distribusi
Tahap kedewasaan ----------> harga
Tahap kemunduran ---------> pengurangan biaya
o   Jenis-jenis produk, apakah produk termasuk dalam jenis barang konsumen (yang convenience goods, shopping goods atau specialty goods) atau barang industri (seperti bahan baku, bahan pembantu penolong alat produksi, fasilitas produksi, piranti dan fasilitas administrasi kantor)

Ø  PRICE (harga), strategi harga berorientasi pada kebijakkan penetapan harga jual produk dengan arah optimum price. Penetapan harga dapat dilakukan berdasar :
o   Biaya (dalam hal ini biaya produksi dengan melalui metode cost-plus atau mark-up)
o   Permintaan atau selera konsumen (guna membentuk image, melalui strategi barang mewah dan strategi barang murah)
o   Persaingan (dengan memperhatikan harga terhadap produk sejenis yang merupakan pesaingnya, strategi yang dilakukan antara lain melalui politik dumping, diskon harga, pembelian secara kredit, atau angsuran, leasing, dan pemberian hadiah)

Ø  PROMOTION, (promosi), dengan strategi bauran promosi (promotional mix) melalui cara teknis periklanan (advertensi), promosi penjualan (sales promotion), personal selling (dengan teknik door to door, mail order, telemarketing, direct selling), dan publisitas (publication, dengan teknik berita, interview, talk-show dan lain-lain) dengan orientasi kebijakan pada latent and potential demand
Faktor dalam penetapan Bauran Komunikasi atau Promosi meliputi :
o   Sifat produk dan pasar, untuk barang konsumsi usaha yang dilakukan biasanya akan mengacu pada rating (skala) relatif periklanan (advertensi), promosi penjualan, personal selling, dan publisitas. Sedangkan untuk barang industri biasanya mengacu pada rating relatif personal selling, promosi penjualan , periklanan, dan publisitas
o   Jumlah dana yang digunakan untuk promosi
o   Tahapan dalam siklus kehidupan produk
Ø  PLACE, (channel of distribution atau saluran distribusi), kebijakan ditujukan pada saluran distribusi yang optimum, dengan strategi saluran distribusi langsung (seperti pusat-pusat belanja dan grosir atau buying centre concept) dan saluran distribusi tidak langsung (dengan pilihan tiga cara penyaluran melalui saluran distribusi eksklusif, selektif, dan intensif)



4.      Keputusan Pemberian Merek dan Pembungkusan

Untuk menambah nilai suatu produk maka perusahaan dapat memberikan suatu merek pada produk yang akan dijualnya.
·         Merek dapat berupa nama, istilah, tanda, simbul atau disain atau kombinasi dari kesemuanya itu untuk mengidentifikasi produk/jasa dari seorang penjual agar dapat dibedakan dengan produk/jasa yang lain
·         Nama merek merupakan bagian dari suatu merek yang dapat diucapkan, misal BNI 46, Gudang Garam
·         Tanda merek merupakan bagian daari suatu merek yang dapat dikenali tetapi tidak dapat diucapkan, berupa simbul dengan disain tertentu
·         Merek dagang yaitu bagian dari suatu merek yang mendapat perlindungan hukum karena mampu untuk memperoleh hak secara eksklusif
·         Hak cipta adalah hak sah eksklusif untuk memproduksi, menerbitkan dan menjual bahan, bentuk tulisan atau karya seni

Kemudian hal yang perlu diperhatikan perusahaan dalam penjualan produk yaitu masalah pemberian pembungkus, atau kemasan. Dalam kenyataan lebih banyak pembeli atau calon pembeli tertarik pada bungkus yang menarik, bahkan harga pembungkus atau kemasannya lebih mahal dari pada harga produk itu sendiri
Suatu pembungkusan dapat memegang peranan penting apabila produk itu merupakan benda yang kecil bentuknya, seperti kosmetika, obat-obatan, roti dll
Terdapat 3(tiga)jenis kemasan:
1)      Kemasan primer, yaitu bungkus yang langsung menyentuh produk seperti, kaleng untuk susu bubuk, botol untuk sirop atau obat batuk
2)      Kemasan Skunder, adalah bahan yang melindungi kemasan primer, misal kardus sebagai pembungkus obat batuk, pada kemasan sekunder ini dapat digunakan sebagai perlindungan tambahan sekaligus untuk promosi
3)      Kemasan Pengiriman, yaitu kemasan yang diperlukan untuk menyimpan dan mengirim produk, misal satu kotak besar berisikan 24 buah teh dalam karton



DAFTAR PUSTAKA

Indriyo Gitosudarmo, Drs, M.Com, Hons      Pengantar Bisnis, Edisi kedua BPFE Yogyakarta -1996
Murti Sumarni, Dra dan John Soeprihanto, Drs, MIM           Pengantar Bisnis, Dasar-dasar Ekonomi Perusahaan,  Liberty Yogyakarta -1987